Tuesday, 24 March 2015

Ditinggal Asisten

Akhirnya aktif kembali di blog ini,kali ini pakai bahasa Indonesia saja yaa.. Biar tercurahkan isi pikiran sampai ke sarinya. Saya sampai ke dilema ibu-ibu perkotaan pada umumnya, yakni ditinggal asisten kesayangan.

Duh rasanya campur aduk deh, sedih, bingung, galau, tidka percaya diri. Memang saya sudah tidak bekerja kantoran lagi. Tapi saya punya usaha yang baru dirintis dan juga penulis lepas. Kadang saya butuh bantuan Teteh (panggilan untuk asisten-red) untuk look after Sya (my 1,5 y.o. daugther- red) kalau lagi buat kue atau ngetik artikel ini itu. Then, all of sudden she decided to quit. Dang! Saya sedihnya seharian loh. Sampai akhirnya saya nulis lagi di blog ini. (ngaruh ga ya?-red)

Yang buat saya sedih:
- Saya sudah anggap seperti keluarga sendiri,kerjanya cekatan, visi misi sama dengan saya dan keluarga
- Ini asisten pertama saya sejak berumah tangga. Yang tahu awal kehidupan Sya, dan Sya pun lengket banget.
- Saya jadi ga percaya diri ngurus Sya sendirian.

Sebenarnya ada berbagai cara mengatasi ditinggal asisten, bisa dengan mencari gantinya. Atau menitipkan anak di Daycare. Bagi saya, karena dapat bekerja di rumah, sayapun memutuskan mengurus Sya berdua dengan suami saja.

Well, saya mencoba ambil dari positive side-nya:
- Nambah pegawai untuk usaha kue saya
- Jadi makin dekat dengan Sya (makin lengket 24 jam sehari)
- Biaya bulanan bisa di alokasi ke kebutuhan lainnya (shopping account mungkin? *eh)
- Cita-cita langsing akan terwujud dengan sendirinya (mengurus anak butuh banyak tenaga kan?)


Tapi kegalauan datang menerpa, apakah saya harus melepaskan mimpi saya punya usaha kue dan penulis lepas? Hmm, menjawab kegalauan itu, saya sampai cari di youtube vlog dari Stay At Home Mom di berbagai negara. Saya menyimak how they handle themself, their family and their house. Memang mereka kebanyakan tidak pakai asisten namun juga tidak bekerja tapi anaknya sudah banyak.

Melihat Sya yang masih tidur pulas dengan wajah imutnya, saya pun merenung. Huuffftt, saya memang harus rubah paradigma selama ini. Sebagai ibu muda di perkotaan, saya sudah terbawa arus paham "babysitter is a must".Padahal Sya anak saya dan suami,kami lah yang bertanggung jawab membesarkannya.Dan mimpi saya masih bisa saya raih dengan cara yang cerdas seperti menambah pegawai sehingga saya hanya mengawasi saja, atau menulis artikel di saat Sya tidur.

Where to begin?
- Jadwal Harian
Menyandur saran dari ibu-ibu yang ada di vlog, saya akan mulai membuat jadwal harian. Yang isinya prioritas diri sendiri dan keluarga. Isi terlebih dahulu dengan prioritas kita untuk istirahat cukup, makan sehat, kebutuhan rohani dan jasmani. Kenapa? Karena bila kitanya dalam keadaan prima, insyaAllah bisa ngasih hasil yang prima juga buat keluarga.

- Menu Makanan
Ditinggal asisten artinya saya yang harus belanja ke pasar dan bikin makanan tiap hari. Rasanya perlu ya pakai menu makanan bulanan. Selama ini sudah pakai, namun belum sesuai jadwal. Biar ga perlu belanja bulak-balik ke pasar, atau bisa buat persediaan seperti ayam ungkep, tempe tahu bacem, jadi masaknya ringan.

- Menu Mainan
Yang ini spesial buat Sya, kebutuhannya untuk di stimulasi jangan sampai terlewatkan. Jadi saya lagi susun daftar mainan yang bisa dilakuin didalam rumah dan luar rumah. Permainannya yang merangsang motoriknya baik halus dan kasar. Saya lagi cari-cari referensi kegiatan di luar rumah biar Sya bersosialisasi.

Mari menghitung hari nih sampai akhir bulan sebelum lepas landas jadi ibu rumah tangga seutuhnya.