Friday, 27 November 2015

Kenapa Rockstar Gym? Ya Kenapa Nggak. :)

Sejak Agustus tahun ini Sya sudah ikutan Rockstar Gym, lokasi dan jadwalnya bisa cek disini ya. Awalnya sih kami pengen cari kegiatan buat Sya, karena tenaganya mulai melimpah ruah sampai ga bisa tidur meski sudah larut malam. Rungsing kalo kata orang sunda mah.  Tapi kami ga pengen Sya masuk ke sekolah yang ada jadwal pastinya dan kegiatannya terjadwal.

Kenapa?

Karena setelah mencoba beberapa sekolah anak usia dini yang ada jadwalnya, kami ga bisa ngikutin. Kami inginnya dari Sya sendiri yang minta untuk pergi sekolah, dan itu ga kejadian dengan sekolah anak usia dini ini. Lalu saat di dalam kelas, keliataannya waktu Sya untuk eksplorasi jadi terbatas, lagi asyik main yang ini sudah harus ganti ke permainan berikutnya. Memang sih bisa main lagi di rumah, tapi excitement-nya pasti beda.

Jadi ulak-ulik lah kami kegiatan apa ya yang kira-kira menyalurkan tenaga Sya sekaligus mengembangkan dirinya. Setelah liat dan trial sana-sini akhirnya kami putuskan ke Rockstar Gym and here's why.


1. BGB alias Bukan Gym Biasa 

Contoh kegiatan di kelas balet, belum foto kelas gymnya, hehe.
Pertama denger kebayangnya alat fitness pembentuk otot kayak di tempat gym orang umumnya ya, hehehe..
Tahu tempat ini udah lama bahkan dulu awal dibuka, saya sempat syuting di salah satu gerainya. Begitu masuk pasti persepsi kita berubah. Ternyata ga bikin anak jadi kekar berotot kok., hehe.

Memang ada kegiatan gymnasticnya, untuk melatih motorik anak seperti jalan di titian, atau hanging like a monkey dsb. Tujuannya melatih otot kaki, otot tangan dan koordinasi syaraf. Ada kelasnya sesuai usia, mulai dari bayi 6 bulan sudah bisa ikutan.

2. Bisa dimana aja.

Yang bikin seneng emaknya sih karena satu keanggotaan ini bisa dipakai di mana aja. Misalkan mau berenang, Sya bisa ikutan jadwal kelas berenang di Rockstar Gym di Kota Kasablanka meskipun daftarnya di branch yang lain. Jadi ketika saya harus berpergian, misal ke mall mana gitu dan ada jadwal yang pas untuk Sya,  bisa tuh ikutan kelas yang ada di branch tersebut.

3. The kids love it.

Sya and her fave Miss Ivo
Setelah ikutan cabang sana-sini dan semua kelas yang ada, akhirnya Sya nemu yang pas, ya kelasnya ya gurunya ya branchnya. Ternyata dia suka balet! Wow, ga pernah nyangka sebelumnya, kirain Sya bakalan tomboi ternyata girly. Hehe.. Bukan kami yang memaksakan Sya untuk ikut kelas ini itu tapi dia sendiri yang minta, "hali ini Sya mau balet Bunda".


Dari tingkah laku pun banyak yang berubah, karena belajar sambil main jadi gampang nyerap kali ya. Contohnya membereskan mainan selalu sambil nyanyi "Clean Clean, Clean your stuff here at rockstar gym" padahal udah dirumah. Hehehe.. :)))

Dari balet ini ternyata Sya paling suka kalo stretching kayak di foto. Awalnya malah yang diikuti cuma streching dan gerakan dasar balet, begitu mulai ada lagu dancenya dia gaya bebas deh lari sana-sini.




Mengenai biaya ada 3 opsi pembayaran seinget saya, bayar per tahun via credit card, auto debet setiap bulan ke credit card atau bayar cash per 6 bulan. Saya ambil yang per 6 bulan sekitar Rp. 5.500.000 dengan pakai promo telkomsel jadi dapat tambahan 1 bulan. Saya lupa kisaran harga opsi lainnya, maafkan ya. Nanti kalo ada list harga baru saya update deh. Ohya kalau mau trial daftar di websitenya aja karena bisa dapat 7 hari waktu trialnya, kalo walk in cuma 1 hari.

Sekali lagi ini bukan promosi ya, cuma saya cerita aja. Kalau ada info sekolah yang mirip ini boleh loh comment di bawah. :)


Monday, 23 November 2015

Drama Menyapih Sya

Urusan yang satu ini beda-beda sifatnya buat setiap orang. Ada yang drama ada yang ga. Ada yang sebelum 2 tahun udah berhenti ASI, ada yang pas 2 tahun berhenti ASI, ada yang masih terus doyan ASi sampai lebih dari 2 tahun seperti Sya (sekarang Sya udah mau 2 Tahun 3 Bulan)

Mungkin saya ga ngerasain drama menyusui, alhamdulillah langsung bisa IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan lancar ASInya sampai dua tahun. Jadi sya udah lulus S3 menyusui dan dia ternyata ketagihan sampai ntah kapan bisa berhenti. Jujur saya mulai 'gerah' karena setiap malam masih merasa kehausan dan gampang masuk angin, karena yah you know lah kalo menyusui sambil ketiduran resikonya gimana kaann, hehe.. Selain itu banyak juga yang tidak menyarankan ASI lebih dari 2 tahun, karena katanya kualitas ASI sudah ga bagus; anak jadi ga manja dan ga mandiri; dapat merusak gigi seperti artikel ini, dst.


"Dihipnotis aja Ken, dibisikin setiap mau tidur, dikasih tau pas siang kalo malam ga minum susu"

Sudah saya coba, pas seminggu sebelum Sya ulang tahun ke-2. Saya hipnotis dia setiap mau tidur, dan siang hari. Dua hari pertama berhasil dengan tangisan, hari 3 mulai bisa tidur tanpa ASI, hari keempat sakit panas, mimisan, ga mau makan. Jujur saya ga tega ngeliatnya, ditambah tangisan yang menyanyat hati di tengah mimpi kayak orang putus cinta (lebay! :P). Percobaan pertama gagal, karena ayahnya juga ga tega, akhirnya Sya kembali menyusui.

Begitu percobaan kedua, sama juga kejadiannya, tapi kali ini lagi ga ada si Ayah. Jadi saat Sya ngamuk ga bisa nyusu bener-bener di handle sendirian. Duh, liatnya ga tega bener. Kata orang sih biar anak belajar, tapi kata hati saya kok ga merasa itu benar ya, karena ga setiap orang belajar dengan cara yang sama kan.


"Ganti dengan makanan dan susu sapi"

Saya agak anti dengan susu sapi, bukan berarti ga konsumsi cuma sebisa mungkin menghindari. Jadi untuk Sya saya ga kasih susu sapi, tapi susu soya. Udah coba yang bu8buk, ga berhasil. Susu cair soya pun cuma sesekali pengennya. Selebihnya ya pengen nyusu langsung sama saya.


"Putingnya dikasih asam, atau pait-paitan"

Sudah, dan ntah buat Sya rasa aneh di puting saya ga ngaruh. Dia tetap aja nyusu dengan nikmatnya.

What the doctor said:
Saya coba konsultasikan ke dokter anaknya Sya, dr. Margaretha alias dr. Atha. Jawabannya simple: gapapa bu, boleh kok tetap ASI sampai 3 tahun. Nanti anaknya berhenti sendiri. Kualitas ASI selama masih disusuin tetap bagus untuk anak.

Sepulang dari dokter saya cari bacaan mengenai ASI lebih dari 2 tahun, ternyata ga sedikit yang kayak saya. Ternyata menyapih bukan hanya kesiapan ibu tapi juga anak dan ayah. Kunci keberhasilan adalah kerjasama. Saya pun lebih tenang setelah baca beberapa artikel tentang manfaat ASI lebih dari 2 tahun seperti ini, juga ini, dan terakhir disini.

Akhirnya kami bertiga sepakat untuk menyapih secara perlahan, dimulai dari mengurangi kebiasaan menyusui Sya di siang hari. Kami mengacu kepada lagu ini:

Pok Ame-Ame Belalang Kupu-Kupu
Siang Makan Nasi Kalau Malam Minum Susu

Siapapun penciptanya, kami berterima kasih sekali! It works to Sya!!! :)))

Dengan proses seperti ini, kami bertiga menikmatinya, ya Sya juga seneng, bundanya juga ga kehausan terus setiap saat, ayahnya ga pusing denger bocah nangis kejer setiap saat minta susu.

Kira-kira sampai kapan tahapan ini bisa berlanjut menjadi LULUS ASI yang sesungguhnya? We'll see. :)
Sstt, aku masih ASI loh. :P





Sunday, 15 November 2015

READATE Rimba Baca

Udah jadi ibu anak satu yang ga ngantor lagi pengennya bisa ajak main anak. Tapi sekitar rumah adanya mall lagi mall lagi. Untung ada tempat seperti Rimba Baca, jadilah tercetus ide bikin Readate jadi ga sekedar playdate tapi juga baca buku.

Rimba Baca ini udah sering dengar tapi belum sempat untuk kesana. Akhirnya dengan Readate sampai juga kita ke Rimba Baca di Jl. RSPP No.21B - Jakarta Selatan, info lebih lanjut klik RIMBA BACA.

Mencapai Rimba Baca lebih enak kalau pakai kendaraan pribadi atau taksi dan last option ojek. Letaknya dipinggir jalan besar, selintas terlihat seperti rumah biasa tapi cat kuningnya dan pagarnya yang senantiasa terbuka bikin orang jadi 'ngeh' oh ini toh Rimba Baca.

Begitu masuk suasananya enak bangeettt, Sya tadinya baru tidur 5 menit langsung melek dan lari-larian sana-sini. Biaya masuk per kedatangan sekitar IDR 35.000 per anak. Sedangkan untuk member setahun IDR 350.000 bisa pinjam 5 buku per kedatangan.

Interior rumah yang hangat dikelilingi buku dan sofa serta bantal-bantal lucu bikin anak-anak betah berlama-lama. Di lantai dasar ada kasir, deretan buku yang di jual dan area makanan beserta snack. Boleh bawa bekal sendiri loh, asalkan makannya tetap di area makan. Di lantai dasar ini area buku untuk anak-anak. Ada segmen mulai dari 0 bulan sampai 12 tahun. Lantai dasar juga dilengkapi toilet serta ruang khusus menyusui atau bisa juga untuk sholat.





Ada tangga menuju atas dengan dekorasi gambar anak-anak yang menarik perhatian. Ternyata koleksi buku untuk bapak dan ibunya ada di atas. Tergolong banyak ya pilihannya ada komik, biografi, sastra, buku masakan, baik berbahasa inggris atau indonesia ada semua di sini. 


Begitu saya datang ada dua tamu lain yang juga sedang membaca. Yang satu keluarga dengan dua anak, salah satu anaknya masih baby banget tapi anteng dan terlihat nyaman dengan situasi sekitar. Sedangkan si kakak bolak-balik baca buku yang berbeda. Pinter banget!

Tamu satu lagi anak dengan supir, si anak nampak asyik membaca dan supirnya mkengawasi sambil tidur. Bapak ini sangat mewakili keinginan saya yang saking nyamannya di Rimba Baca bawaanya pengen gegoleran tidur juga. Hehehe..

Sambil nunggu teman-temannya yang lain, Sya muter-muter dulu dan dia menemukan kolam kura-kura dan aquarium isi ikan mas koki di belakang. Aakk, seneng banget! Gak lama teman-temannya Sya datang dan dimulailah kerusuhan sampai jam setengah 4 sore. Yah namanya anak-anak kebayang lah ramenya kayak apa dan berantakan banget. Tapi kami senang karena anak-anak antusias sekali dengan koleksi buku Rimba Baca yang banyaakkk ragamnya, jadi ga bikin bosen. Lalu mainan dan interaksi dengan hewan seperti kura-kura di taman belakang buat anak-anak betah main. Kami pun jadi bikin playgroiup dadakan dengan ajak bocah nyanyi bareng, baca bareng, makan bareng, sampai ada nangis bareng karena udah capek.










Terima kasih pada mbak penjaga Rimba Baca yang udah sabar dan asyik ngeladenin kami.



Monday, 9 November 2015

Financial Planning Ala-Ala

Hai Ibu-Ibu atau calon Ibu,
Selamat datang di Financial Planning ala-ala saya. Hehe.

Setelah baca blog Alodita tentang Financial Planner disini dan juga menemukan blog Ibu-Ibu yang hemat banget disini, saya jadi mau kepikiran bercerita FP ala saya.

Yes! Uang bukan segalanya.

Yes! Hidup tetap butuh uang.

Saya datang dari keluarga yang keuangannya carut-marut, kadang ada kadang ga ada. Padahal Ibu saya gemar mencatat pemasukan dan pengeluaran loh, dan saya sudah melakukan catatan keuangan saya pribadi sejak kelas 4 SD. Saya ingat saat itu diberi uang jajan Rp. 1.500 untuk seminggu yang setiap pengeluaran dan pemasukannya harus ditulis.

Lalu saat saya kuliah, saya sering juga kekurangan uang. Selain orang tua saya terbatas, tapi saya tetap cari beasiswa dan pendapatan lain seperti berjualan. Kok tetap aja saya ga bisa nabung, hal ini berlanjut sampai saya kerja.

Mau berapapun pendapatan saya, dan meski sudah ditulis arus keluar masuknya tetap saja kurang atau ngepas banget. Jangankan nabung, untuk transport di akhir bulan aja tipiiiss banget dengan tanggal gajian. Wah pokoknya ngurus keuangan bikin saya pusing apalagi saat itu saya menanggung keluarga juga, belum lagi gaya hidup. Sampai akhirnya saya kerja sebagai jurnalis di TV, bertemulah saya dengan beberapa Financial Planner dan jeng jeng!

Setelah beberapa kali bertemu untuk wawancara, saya dapat ilmu banyak dari para Financial Planner kece tersebut dan saya baru nyadar kesalahan saya serta keluarga saya dalam mengelola uang. Antara lain:

1. Prinsip "Gimana Ntar Aja".
Di keluarga saya pemasukannya ga setiap bulan. Dan setiap kali dapat pemasukan langsung dihabiskan untuk kebutuhan yang bulan-bulan sebelumnya ga bisa dibeli. Selalu seperti itu, dengan prinsip "gimana ntar aja". Makanya kita pasti cenderung menghabiskan semua pemasukan dalam jangka waktu tertentu, yang penting sekarang senang karena bulan-bulan sebelumnya kita ga bisa nikmatin ini-itu.
Nah ternyata prinsipnya yang benar adalah "Ntar gimana?", pertanyaannya dibalik. "Kalau sekarang habis sekian, bulan depan gimana?"

2. Bukan "Seberapa Besar dapatnya" tapi "Seberapa besar yang dihabiskan"
Dari buku FP pertama yang saya beli karyanya Mrs. Lidwigna Hananto (akhirnya saya beli 3 buka karena buku pertama hilang dipinjam teman-temann, buku kedua untuk adek saya, dan buku ketiga untuk saya sendiri). Ada pertanyaan yang kurang lebih begini:
Pernah liat ga teman yang penghasilannya puluhan juta, masih tinggal dengan orangtua, ga punya rumah sendiri atau bahkan ga bisa beli mobil sendiri? Ada.
Pernah liat teman yang gajinya cuma 8 juta udah digabung gaji istri tapi bisa punya kendaraan sendiri dan bisa nyicil rumah meskipun jauh dari ibukota dan kecil? Ada.
Saya pernah jadi teman di kategori pertama. Meski gajinya ga puluhan juta juga sih, tapi setidaknya cukup untuk beli kendaraan sendiri, and I didn't.
Ternyata bukan seberapa besar pendapatan kita, tapi bagaimana kita menghabiskannya. Apakah sudah memenuhi kebutuhan kita di masa nanti? Karena kita hidup (insyaAllah) ga sekarang aja, kita juga punya mimpi let say keliling dunia misalnya itu kan tetap butuh uang. Kalaupun kita meninggal, apakah keturunan kita bisa hidup layak? Pertanyaan tersebut mengarakan saya ke kesalahan berikutnya.

3. No Financial Planning = Bokek all the time.
Saya sempat pada suatu hari bertanya ke teman saya, kalo kebutuhan lo udah tercukupi begitupun kebutuhan keluarga lo juga terpenuhi, lalu sisa gaji lo buat apa? Teman saya saat itu menjawab ya buat senang-senang lah, atau ditabung.
JEGER!
Udah lama banget saya ga nabung, kayaknya tabungan saya selalu abis. Ohya kalo senang-senang terus, saya kok merasa ga enak sesudahnya karena berasanya kemana aja uang saya selama ini, ga punya apapun sebagai bentuk investasi.
Sebenarnya saya kerja tujuannya apa sih? Mau dapat pengalaman doang, atau dapat uang juga untuk masa depan saya?


Ga mau terus-terusan terpaku di titik yang sama, I have to go out of my "comfort zone".GImana caranya?
1. Bikin Target Financial
Saya beranikan bermimpi pengen 'dapat' sesuatu dari uang saya sendiri. Saat itu saya mau menikah, jadi targetnya biayain acara lamaran sendiri dan membantu biaya pernikahan dalam waktu ga sampai setahun. As that simple tapi beraaatt banget buat pemula kayak saya. Tapi akhirnya kesampaian juga tuh, dan rasanya senang banget! Senang karena saya berhasil mengalahkan kebiasaan buruk saya. Senang karena bisa ngeringanin orang tua.
Saat menikah target financial pun berubah, jadi saya bikin setiap tahun. Tahun 2012 target financialnya untuk persiapan nikah. Tahun 2013 untuk persiapan lahiran anak dan perlengkapannya. 2014 dst.
Tapi saya juga bikin target financial 5 tahunan, yang kayaknya butuh biaya besar banget kayak rumah, mobil, haji, dsb.

2. Bikin Financial Planning
Demi menunjang cita-cita financial saya, dibuatlah Financial Planning. Terhitung udah 4 tahun sejak 2011, saya bikin FP ala-ala. Kenapa ala-ala, karena penerapannya ya belum 100% benar, tapi manfaatnya udah saya rasakan sendiri. FP saya mengacu ke:
3% zakat & sedekah
30% tabungan, investasi (dana darurat, proteksi, pendidikan anak, tabungan haji, dsb)
10% utang (cicilan kartu kredit, cicilan lainnya, kalau ga ada bisa dialokasikan untuk yang lain asuransi kesehatan mungkin)
57% gaya hidup (makan, belanja kebutuhan bulanan, nongkrong, dsb)

Skema ini mungkin cocok buat saya tapi belum tentu cocok buat orang lain, karena apa? Kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Jadi saran saya sih cari yang terbaik untuk bikin arus keuangan anda sehat. Mungkin bisa cek ke situs financial planner, mereka ada aplikasi untuk ngitung dan cek apakah arus pemasukan dan pengeluaran kita sehat atau ga. Dari situ kita bisa tahu mulai dari mana untuk 'ngobatinnya'.

Jalanin financial planning mudah ga? Gaaaaa. Susah banget! Karena banyak post yang harus saya isi di awal seperti Dana Darurat (ini harus diisi dulu sebagai pemulaan) dan Investasi. Saya harus menekan gaya hidup, seperti mengurangi online shopping yang bikin gatel mata, hehe. Juga pilih-pilih makanan, kalo bisa tetap hemat dan sehat (karena kalo sakit mahal, bisa-bisa dana darurat saya terpakai, hehe) dsb.

Saya pun masih punya sifat-sifat konsumtif yang muncul tiba-tiba, untungnya sebagian besar bisa diredam. Apalagi sekarang udah ada anakdansaya harus saving untuk kebutuhan sekolah dia kelak, pas saya mau konsumtif jadi mikir belasan kali deh. Saran saya sih biar FPnya berjalan mulus: konsisten, belanja jangan saat lapar dan harus pakai list kebutuhan (bukan 'list keinginan' ya) dan have fun with it!



Ciao. -n-