Monday, 23 November 2015

Drama Menyapih Sya

Urusan yang satu ini beda-beda sifatnya buat setiap orang. Ada yang drama ada yang ga. Ada yang sebelum 2 tahun udah berhenti ASI, ada yang pas 2 tahun berhenti ASI, ada yang masih terus doyan ASi sampai lebih dari 2 tahun seperti Sya (sekarang Sya udah mau 2 Tahun 3 Bulan)

Mungkin saya ga ngerasain drama menyusui, alhamdulillah langsung bisa IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan lancar ASInya sampai dua tahun. Jadi sya udah lulus S3 menyusui dan dia ternyata ketagihan sampai ntah kapan bisa berhenti. Jujur saya mulai 'gerah' karena setiap malam masih merasa kehausan dan gampang masuk angin, karena yah you know lah kalo menyusui sambil ketiduran resikonya gimana kaann, hehe.. Selain itu banyak juga yang tidak menyarankan ASI lebih dari 2 tahun, karena katanya kualitas ASI sudah ga bagus; anak jadi ga manja dan ga mandiri; dapat merusak gigi seperti artikel ini, dst.


"Dihipnotis aja Ken, dibisikin setiap mau tidur, dikasih tau pas siang kalo malam ga minum susu"

Sudah saya coba, pas seminggu sebelum Sya ulang tahun ke-2. Saya hipnotis dia setiap mau tidur, dan siang hari. Dua hari pertama berhasil dengan tangisan, hari 3 mulai bisa tidur tanpa ASI, hari keempat sakit panas, mimisan, ga mau makan. Jujur saya ga tega ngeliatnya, ditambah tangisan yang menyanyat hati di tengah mimpi kayak orang putus cinta (lebay! :P). Percobaan pertama gagal, karena ayahnya juga ga tega, akhirnya Sya kembali menyusui.

Begitu percobaan kedua, sama juga kejadiannya, tapi kali ini lagi ga ada si Ayah. Jadi saat Sya ngamuk ga bisa nyusu bener-bener di handle sendirian. Duh, liatnya ga tega bener. Kata orang sih biar anak belajar, tapi kata hati saya kok ga merasa itu benar ya, karena ga setiap orang belajar dengan cara yang sama kan.


"Ganti dengan makanan dan susu sapi"

Saya agak anti dengan susu sapi, bukan berarti ga konsumsi cuma sebisa mungkin menghindari. Jadi untuk Sya saya ga kasih susu sapi, tapi susu soya. Udah coba yang bu8buk, ga berhasil. Susu cair soya pun cuma sesekali pengennya. Selebihnya ya pengen nyusu langsung sama saya.


"Putingnya dikasih asam, atau pait-paitan"

Sudah, dan ntah buat Sya rasa aneh di puting saya ga ngaruh. Dia tetap aja nyusu dengan nikmatnya.

What the doctor said:
Saya coba konsultasikan ke dokter anaknya Sya, dr. Margaretha alias dr. Atha. Jawabannya simple: gapapa bu, boleh kok tetap ASI sampai 3 tahun. Nanti anaknya berhenti sendiri. Kualitas ASI selama masih disusuin tetap bagus untuk anak.

Sepulang dari dokter saya cari bacaan mengenai ASI lebih dari 2 tahun, ternyata ga sedikit yang kayak saya. Ternyata menyapih bukan hanya kesiapan ibu tapi juga anak dan ayah. Kunci keberhasilan adalah kerjasama. Saya pun lebih tenang setelah baca beberapa artikel tentang manfaat ASI lebih dari 2 tahun seperti ini, juga ini, dan terakhir disini.

Akhirnya kami bertiga sepakat untuk menyapih secara perlahan, dimulai dari mengurangi kebiasaan menyusui Sya di siang hari. Kami mengacu kepada lagu ini:

Pok Ame-Ame Belalang Kupu-Kupu
Siang Makan Nasi Kalau Malam Minum Susu

Siapapun penciptanya, kami berterima kasih sekali! It works to Sya!!! :)))

Dengan proses seperti ini, kami bertiga menikmatinya, ya Sya juga seneng, bundanya juga ga kehausan terus setiap saat, ayahnya ga pusing denger bocah nangis kejer setiap saat minta susu.

Kira-kira sampai kapan tahapan ini bisa berlanjut menjadi LULUS ASI yang sesungguhnya? We'll see. :)
Sstt, aku masih ASI loh. :P





No comments:

Post a Comment