Monday, 9 November 2015

Financial Planning Ala-Ala

Hai Ibu-Ibu atau calon Ibu,
Selamat datang di Financial Planning ala-ala saya. Hehe.

Setelah baca blog Alodita tentang Financial Planner disini dan juga menemukan blog Ibu-Ibu yang hemat banget disini, saya jadi mau kepikiran bercerita FP ala saya.

Yes! Uang bukan segalanya.

Yes! Hidup tetap butuh uang.

Saya datang dari keluarga yang keuangannya carut-marut, kadang ada kadang ga ada. Padahal Ibu saya gemar mencatat pemasukan dan pengeluaran loh, dan saya sudah melakukan catatan keuangan saya pribadi sejak kelas 4 SD. Saya ingat saat itu diberi uang jajan Rp. 1.500 untuk seminggu yang setiap pengeluaran dan pemasukannya harus ditulis.

Lalu saat saya kuliah, saya sering juga kekurangan uang. Selain orang tua saya terbatas, tapi saya tetap cari beasiswa dan pendapatan lain seperti berjualan. Kok tetap aja saya ga bisa nabung, hal ini berlanjut sampai saya kerja.

Mau berapapun pendapatan saya, dan meski sudah ditulis arus keluar masuknya tetap saja kurang atau ngepas banget. Jangankan nabung, untuk transport di akhir bulan aja tipiiiss banget dengan tanggal gajian. Wah pokoknya ngurus keuangan bikin saya pusing apalagi saat itu saya menanggung keluarga juga, belum lagi gaya hidup. Sampai akhirnya saya kerja sebagai jurnalis di TV, bertemulah saya dengan beberapa Financial Planner dan jeng jeng!

Setelah beberapa kali bertemu untuk wawancara, saya dapat ilmu banyak dari para Financial Planner kece tersebut dan saya baru nyadar kesalahan saya serta keluarga saya dalam mengelola uang. Antara lain:

1. Prinsip "Gimana Ntar Aja".
Di keluarga saya pemasukannya ga setiap bulan. Dan setiap kali dapat pemasukan langsung dihabiskan untuk kebutuhan yang bulan-bulan sebelumnya ga bisa dibeli. Selalu seperti itu, dengan prinsip "gimana ntar aja". Makanya kita pasti cenderung menghabiskan semua pemasukan dalam jangka waktu tertentu, yang penting sekarang senang karena bulan-bulan sebelumnya kita ga bisa nikmatin ini-itu.
Nah ternyata prinsipnya yang benar adalah "Ntar gimana?", pertanyaannya dibalik. "Kalau sekarang habis sekian, bulan depan gimana?"

2. Bukan "Seberapa Besar dapatnya" tapi "Seberapa besar yang dihabiskan"
Dari buku FP pertama yang saya beli karyanya Mrs. Lidwigna Hananto (akhirnya saya beli 3 buka karena buku pertama hilang dipinjam teman-temann, buku kedua untuk adek saya, dan buku ketiga untuk saya sendiri). Ada pertanyaan yang kurang lebih begini:
Pernah liat ga teman yang penghasilannya puluhan juta, masih tinggal dengan orangtua, ga punya rumah sendiri atau bahkan ga bisa beli mobil sendiri? Ada.
Pernah liat teman yang gajinya cuma 8 juta udah digabung gaji istri tapi bisa punya kendaraan sendiri dan bisa nyicil rumah meskipun jauh dari ibukota dan kecil? Ada.
Saya pernah jadi teman di kategori pertama. Meski gajinya ga puluhan juta juga sih, tapi setidaknya cukup untuk beli kendaraan sendiri, and I didn't.
Ternyata bukan seberapa besar pendapatan kita, tapi bagaimana kita menghabiskannya. Apakah sudah memenuhi kebutuhan kita di masa nanti? Karena kita hidup (insyaAllah) ga sekarang aja, kita juga punya mimpi let say keliling dunia misalnya itu kan tetap butuh uang. Kalaupun kita meninggal, apakah keturunan kita bisa hidup layak? Pertanyaan tersebut mengarakan saya ke kesalahan berikutnya.

3. No Financial Planning = Bokek all the time.
Saya sempat pada suatu hari bertanya ke teman saya, kalo kebutuhan lo udah tercukupi begitupun kebutuhan keluarga lo juga terpenuhi, lalu sisa gaji lo buat apa? Teman saya saat itu menjawab ya buat senang-senang lah, atau ditabung.
JEGER!
Udah lama banget saya ga nabung, kayaknya tabungan saya selalu abis. Ohya kalo senang-senang terus, saya kok merasa ga enak sesudahnya karena berasanya kemana aja uang saya selama ini, ga punya apapun sebagai bentuk investasi.
Sebenarnya saya kerja tujuannya apa sih? Mau dapat pengalaman doang, atau dapat uang juga untuk masa depan saya?


Ga mau terus-terusan terpaku di titik yang sama, I have to go out of my "comfort zone".GImana caranya?
1. Bikin Target Financial
Saya beranikan bermimpi pengen 'dapat' sesuatu dari uang saya sendiri. Saat itu saya mau menikah, jadi targetnya biayain acara lamaran sendiri dan membantu biaya pernikahan dalam waktu ga sampai setahun. As that simple tapi beraaatt banget buat pemula kayak saya. Tapi akhirnya kesampaian juga tuh, dan rasanya senang banget! Senang karena saya berhasil mengalahkan kebiasaan buruk saya. Senang karena bisa ngeringanin orang tua.
Saat menikah target financial pun berubah, jadi saya bikin setiap tahun. Tahun 2012 target financialnya untuk persiapan nikah. Tahun 2013 untuk persiapan lahiran anak dan perlengkapannya. 2014 dst.
Tapi saya juga bikin target financial 5 tahunan, yang kayaknya butuh biaya besar banget kayak rumah, mobil, haji, dsb.

2. Bikin Financial Planning
Demi menunjang cita-cita financial saya, dibuatlah Financial Planning. Terhitung udah 4 tahun sejak 2011, saya bikin FP ala-ala. Kenapa ala-ala, karena penerapannya ya belum 100% benar, tapi manfaatnya udah saya rasakan sendiri. FP saya mengacu ke:
3% zakat & sedekah
30% tabungan, investasi (dana darurat, proteksi, pendidikan anak, tabungan haji, dsb)
10% utang (cicilan kartu kredit, cicilan lainnya, kalau ga ada bisa dialokasikan untuk yang lain asuransi kesehatan mungkin)
57% gaya hidup (makan, belanja kebutuhan bulanan, nongkrong, dsb)

Skema ini mungkin cocok buat saya tapi belum tentu cocok buat orang lain, karena apa? Kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Jadi saran saya sih cari yang terbaik untuk bikin arus keuangan anda sehat. Mungkin bisa cek ke situs financial planner, mereka ada aplikasi untuk ngitung dan cek apakah arus pemasukan dan pengeluaran kita sehat atau ga. Dari situ kita bisa tahu mulai dari mana untuk 'ngobatinnya'.

Jalanin financial planning mudah ga? Gaaaaa. Susah banget! Karena banyak post yang harus saya isi di awal seperti Dana Darurat (ini harus diisi dulu sebagai pemulaan) dan Investasi. Saya harus menekan gaya hidup, seperti mengurangi online shopping yang bikin gatel mata, hehe. Juga pilih-pilih makanan, kalo bisa tetap hemat dan sehat (karena kalo sakit mahal, bisa-bisa dana darurat saya terpakai, hehe) dsb.

Saya pun masih punya sifat-sifat konsumtif yang muncul tiba-tiba, untungnya sebagian besar bisa diredam. Apalagi sekarang udah ada anakdansaya harus saving untuk kebutuhan sekolah dia kelak, pas saya mau konsumtif jadi mikir belasan kali deh. Saran saya sih biar FPnya berjalan mulus: konsisten, belanja jangan saat lapar dan harus pakai list kebutuhan (bukan 'list keinginan' ya) dan have fun with it!



Ciao. -n-



No comments:

Post a Comment