Saturday, 23 January 2016

Read-date Jilid 2!


Kami ketagihan!

Begitu yang ada di pikiran kami, ibu-ibu yang ikutan Readate jilid 1. Seru banget ternyata main bareng di perpustakaan, anak-anak makin gemar baca buku deh, apalagi tempatnya nyaman. Kami pun segera janjian bikin Jilid keduanya, masih di tempat yang sama kali ini kami mengundang Orissa, seorang psikolog anak usia dini dan juga pengagas Rumah Dandelion., yang fokus di tumbuh kembang anak usia dini.

Kenapa?

Karena kami mau curhat dong Oriii (panggilan Orissa - nik), hahaha.

Sebelumnya saat anak-anak mulai asyik main dan baca buku sendiri, para ibu asyik ngobrol tentang pola pengasuhan anak. Tapiiii, rasanya kurang puas karena kita ga tahu jawaban yang kita dapat udah bener atau belum.

Dari hasil ngobrol, curhat dan diskusi kami kali ini ada beberapa hal oke untuk diingat:
1. Tidak ada kata "terlalu dini" untuk memulai rutinitas pada anak.
     Jujur saya dulu ga punya rutinitas teratur yang wajib seperti jam makan, jam mandi, dsb. Saya kuatir hal ini menurun pada anak, teman saya punya kekuatiran yang berbeda. Dia kuatir terlalu dini menerapkan rutinitas dengan jam-jam tertentu untuk anak. Ternyata, punya rutinitas itu penting baik buat anak dan juga tubuhnya. Misalnya jam tidur, jam makan, dan jam mandi baik untuk diterapkan sejak usia dini.  Tubuh anak otomatis akan mengingat kapan harus bangun, kapan lapar, dsb. Awalnya anak pasti akan bingung atau mungkin berontak, gapapa wajar aja, beri pengertian dan buat jadi menyenangkan dengan beri reward (bisa pujian atau nyanyi lagu favorit bersama).

2. Anak selalu merengek minta ditemani main, padahal kita selalu di sampingnya.
    Pernah ga mengalami ini: sudah di samping anak tapi anak kok merengek terus minta ditemani? Mungkin itu karena kita menyambi pekerjaan lain dan tidak fokus bermain bersama anak. Bagi anak kita ada di satu ruangan artinya kita main bareng, perhatian kita harus fokus ke anak bukan yang lain.
   Lalu gimana kalau ibunya harus bekerja ini itu, ga bisa disambi? Bisa, tapi begini caranya. Ibarat isi baterai handphone, lebih baik diisi penuh baru digunakan daripada baru isi 30%  langsung kita pakai, 20 menit kemudian pasti lowbatt lagi. Begitu pun dengan anak, bukan berarti anak sama dengan handphone ya, hehehe. Tapi kalo kebutuhannya tercukupi, kita pun bisa berlanjut ke pekerjaan lainnya dalam jangka waktu lebih lama sebelum anak kembali minta ditemani.

3. Kira-kira anak saya tipe pembelajarannya seperti apa ya?
   Baiknya tidak melabeli anak ini dan itu sebelum usianya dewasa. Karena minat anak masih bisa berubah seiring pertumbuhan. Sebelum usia anak 6 tahun baiknya dikenalkan segala aktivitas yang merangsang minat dan bakatnya. Setelah usia 6 tahun baru kita asah minat dan bakatnya serta selami gaya belajar yang pas bagi anak.

4. Duh, pola asuh berbeda nih antara ibu dan orang tua.
   Pasti pernah kan ngalamin hal ini, contohnya kita melarang makan es tapi begitu datang ke rumah kakek-neneknya anak dimanjakan dengan es banyak sekali! Wah mau marah tapi ga enak. Kalau saya sih biasanya langsung ajak anak makan es bareng, jadi tidak satu porsi dihabiskan sendiri, sambil saya kasih tau alasannya kenapa saya larang makan es. Ternyata Ori berprinsip yang mirip, apabila bisa diobrolin dari awal rules kita ke orangtua akan lebih baik. Namun bila ga enakan mendiskusikan ini ke orang tua, obrolin ke anak saja sesampainya di rumah. Kasih tau alasannya kenapa kita larang anak, lebih baik bila kita bisa menunjukan foto atau video yang menunjang alasan kita. Anak jadi paham dan bahkan dia sendiri yang akan bilang "ga" begitu ditawari es lagi (misalnya).

5. Anakku kalo marah serem deh, pukul-pukul atau cederai diri sendiri
Karena kosakata anak dibawah usia 4 tahun masih sedikit, jadi begitu marah umumnya diluapkan dengan fisik. Entah itu memukul orang atau melukai diri sendiri. Karenanya kita harus sigap dengan langsung memeluk anak sambil bilang "TIDAK! Berhenti!" Atau "No! STOP!" Lalu contohkan fungsi tangan itu untuk menyanyangi bukan pukul.
Tau sambil peluk anak, tanya perasaannya gimana, apa yang dia rasakan? Marah, kecewa, sebal? Ajak anak ngobrol mengenai perasaannya. Kalau anak masih berontak, sambil dipeluk kita alihkan dulu perhatiannya ke hal yang menyenangkan baginya. Begitu sudah reda amarahnya baru kita kasih penjelasan dan obrolin perasaannya.

Wah ga terasa waktu 2 jam habis dengan cepat, dan masih banyak yang mau diobrolin lagi. Terima kasih Ori telah meluangkan waktunya buat dengerin curhatan kita, hehe. Semoga berikutnya mau lagi ya kita undang buat curhat anak. Read-date Jilid 3 bikin apalagi ya? ;)

No comments:

Post a Comment