Saturday, 11 June 2016

Ajak Anak Ke Pemakaman

Innalillahi wa innailaihi Rojiun

Ayah dari suami saya baru saja berpulang Minggu, 5 Juni 2016. Sebuah peristiwa yang membekas di hati dan pikiran kami sebagai anak, mantu dan cucu. Penyebabnya adalah kanker yang lebih lanjut ada di tulisan saya berikut.

Sya cukup dekat dengan Kai (panggilan kakek dalam bahasan Banjarmasin), karena kami tinggal serumah. Kai sangat sayang sama Sya, sampai kadang (maaf) saya jengah karena kalau lagi kumpul dengan cucu yang lainnya tapi Sya terus yang dicariin. Saya maklum sih, selama ini tidak ada anak perempuan di rumahnya, jadi aura yang dibawa Sya tentu sebuah pengalaman baru bagi Kai (pagi-pagi dikasih bunga sama anak 2 tahun hasil metik di halaman, siapa yang ga terharu. Atau lagi nonton bareng tangannya dielus-elus anak kecil dengan lembut)


Kai & Sya, Halal Bi Halal 2014


Ketika tau Kai sakit, kami juga menjelaskan kepada Sya, Kai kenapa sakit, apa penyakitnya, bagaimana efeknya dan dia mengerti. Jadi saat Kai butuh perawatan intensif di rumah kami saling berbagi tugas, termasuk Sya yang ditugasi menemani Kai makan dan menemani Kai saat sedih. Kamipun menjelaskan konsep ‘meninggal’ sejak awal kepada Sya biar dia tidak kaget bila sewaktu-waktu itu terjadi.
Sya Saat Temani Kai Makan


Banyak yang bilang seumur Sya masih terlalu dini bila diajarkan tentang meninggal, tapi kami juga ga tega berbohong di depan Sya. Karena mata bundarnya selalu penuh tanya, dan akan terus terlontar kata “kenapa?” teruuusss begitu sampai kami jawab jujur dan dapat ia pahami (anak kecil itu liar detector nomor 1, ya kan?).

Semakin hari kondisi Kai memburuk. Ke rumah sakit terus menerus, bolak-balik karena kemo dan masuk ugd.

Sya terus bertanya: Kai kenapa sih masuk rumah sakit teruuss?
Jawaban kami: Karena Kai sakit, butuh pertolongan dokter di rumah sakit. Sya tolong doain agar Kai sembuh ya.

Sampai Sabtu 4 Juni 2016 kondisi Kai kritis, kami sekeluarga dipanggil ke rumah sakit pukul 1 siang. Seluruh keluarga termasuk Syakira yang paling kecil diminta temui Kai. Setelah ijin dengan pihak keamanan Rumah Sakit, Sya bisa naik ke kamar Kainya. Saat itu Kai sedang sakaratul maut, berkali-kali mengabsen anak cucunya, termasuk Syakira, dan menanyakan apakah besok ikut? Kami semua jawab  ikut termasuk Sya akan antar Kai esok (minggu).

Sya tentu (karena dasarnya kepo-an) bertanya: “Emang Kai mau kemana?
Kami jelaskan kalau: “Kai sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita. Kai mau pindah rumah, nanti kita antar Kai ke rumah barunya ya Sya. “
Sya: “Dimana?”
Kami : “ Di Tanah Kusir, pemakaman Sya. Tempat dimana nanti kita semua juga akan pindah kesana.”
Sya: “Kenapa?”
Kami: “Karena kita semua akan meninggal, akan pindah rumah, cuma waktunya ga sekarang, mungkin nanti. Sekarang Kai duluan yang pindah rumah ya.”
Sya: “Iya”

Esok paginya Kai meninggalkan kami semua tepat pukul 00.19. Saat itu kami menginap di hotel belakang Rumah Sakit. Kamipun bergegas pulang, Sya terbangun dan bertanya, “ada apa?”
Kami jawab bahwa, “Kai sudah pergi dan sekarang kita bersiap mau antar Kai ke rumah barunya. Berangkat bareng dari rumah. Sya mau antar Kai?”
Sya mengangguk mantap.

Tiba saat mengantar Kai ke rumah barunya, Sya tertidur lelap. Saya tadinya mengambil mobil untuk jemput Sya dan tetehnya. Entah kenapa Sya ga kunjung tiba ke mobil dan saya harus sudah jalan karena ikut rombongan. Saya pikir “ah lewat deh kesempatan Sya mengantar Kainya. Ah tapi mungkin ini yang terbaik karena orang-orang keberatan bila Sya dibawa ke makam”. Ujar mereka “kasihan anak kecil dibawa ke makam” atau “dia juga belum ngerti kalau dibawa ke makam, nanti malah trauma” atau ”udah ga usah, anak kecil di rumah aja, pamali”, dst. Saya dan suami termakan omongan padahal sebelumnya kami sudah diskusi dan sepakat, bila Sya setuju, kami akan bawa Sya ke makam.

Ternyata begitu bangun Sya langsung nangis kencang, ia kecewa merasa ditinggalkan. Sya marah-marah (serius ini heboh banget katanya marah-marah sampai minta dipesenin uber! *kids nowadays * x) )sampai bilang:

Sya mau antang Kai! Bunda udah janji ama Sya! Tolong pesenin ubeng mama yang! Sya mau pellgiiii antang Kaiii!

(diceritain oleh kakak ipar saya yang tadinya berniat jaga rumah aja dan menemani tamu-tamu yang berdatangan). Siapapun yang mendengar jadi terenyuh, alhamdulillah tiba-tiba ada saudara baru datang dan ingin nyusul ke makam. Jadilah Sya dibawa bersama kakak ipar saya, saking buru-burunya sampai lupa ga pakai sendal!


Sya tiba di makam tepat sebelum Kai dikubur, jadi ia menyaksikan langsung seperti apa prosesi pemakaman. Saya jelaskan tahapannya satu persatu kepada Sya. Ia memperhatikan dengan seksama, sambil mengangguk. Saya juga bilang pada Sya kalau kangen Kai, kita bisa kesini bacakan doa atau bacakan doa dari rumah ya. Sekarang Kai sudah tidak kesakitan, Kai sudah bahagia di rumah barunya. Saya tanya perasaannya bagaimana, sedih, bingung atau kangen? Sya hanya mengangguk pada kata sedih dan kangen. Foto Sya ke makam ada di sini (Thanks to Pakde Ommy)

Tiba Di Makam Ga Pakai Sendal Atau Sepatu
Ternyata Ga Cuma Sya Yang Ke Makam, Ada Ayman dan Arka (Si Kecil Berbaju Merah)



Alhamdulillah sejak ia bangun tidur sampai mau tidur lagi tidak rewel sama sekali kecuali saat protes kenapa ga diajak ke makam. Sisanya Sya malah asyik main dengan tamu, keliling rangkaian bunga sambil minta difotoin. X)
Asyik Bergaya Setelah Ke Rumah Baru Kai

Sempat ada teman saya yang berkunjung sambil membawa anaknya yang seusia Sya. Begitu ketemu, Sya langsung cerita kalau “Kai meninggal, udah dikubul. Kubulan itu lumah balu Kai” dan jawaban yang sama ia katakan saat ditanya para tamu yang datang.

Perihal mengajak anak ke makam ini saya belajar dari teman saat ayahnya meninggal, ia bawa anaknya yang berusia 7 bulan ke makam. Awalnya saya keberatan tapi Ola, teman saya, bilang gini: “gapapa biar dia tahu apa yang terjadi sama kakeknya.” Kebetulan teman saya juga tinggal serumah dengan orangtuanya. Setelah saya alami sendiri, memang perlu menjelaskan pada anak apa yang terjadi di sekitarnya. Supaya anak memahami perasaan orang lain. Kalau dari hasil pembelajaran 8 Kecerdasan Anak, ini bisa merangsang self smart dan people smart. Secara ga langsung kita mengajarkan anak tentang perasaan, empati, dan peduli kepada orang lain.

Kami sebagai orangtua juga sadar bahwa jujur memang lebih baik meskipun menyakitkan. Bahwa anak juga harus belajar arti kehilangan, ga semua hal bisa kita miliki selamanya. Ada saatnya kehilangan ada saatnya bahagia.

Mungkin ada juga yang ga sependapat dengan saya, atau pernah mengalami hal yang serupa?



Stay Happy! :)


*Photo Credit to: Mas Ommy (Indra Prasetijo) & Mbak Achie

No comments:

Post a Comment