Saturday, 18 June 2016

Kesandung Saat Gapai Rumah Impian

Bagi pasangan baru menikah, biasanya impian selanjutnya antara lain:
-       Bulan madu seru
-       Punya anak
-       Punya rumah
Termasuk saya dan suami, terutama yang punya rumah sendiri (karena bulan madu seru bisa kapan aja, apalagi pas ada tiket promo, ya ga? :P). Namanya juga rumah tangga baru pasti ingin punya ruang yang bisa menerapkan idealisme kita dalam membangun keluarga. Makanya begitu ada rejeki, saya dan suami langsung cari rumah. Perjalanan mencari rumah cukup panjang mulai dari 2014 akhir.

Beragam cerita kami dapat saat cari rumah:
1.    Ada yang iklannya menipu ternyata harga segitu belum termasuk pajak lalalalilililululu yang jadinya harga naik hampir 2 kali lipat.
2.     Rumahnya keren tapi jauh kemana-mana.
3.     Fasilitas ok di sekitarnya tapi ternyata perumahan itu saja yang banjir
4.     Sudah hampir oke begitu ke kantor agennya segala ada keris dan jimat dipasang sana-sini terus juga marketingnya ga asyik.
5.     Terus pernah juga kami sudah jatuh hati sama sebuah perumahan eh kok hawanya anyep ya? Ternyata ada kuburan besar banget di tanah sebelah kompleknya. Hiiii..
6.    Sampai agen perumahan yang ngotot kalo produknya ok banget padahal cuma dibatasi satu tembok dengan rel kereta api! Kebayang dong getarannya maknyus kan kalo kereta lewat.


Sampai akhirnya bulan Juni tahun lalu, kami setuju membeli sebuah rumah mungil (sumpah mungil banget tapi yang penting ada kan ya, alhamdulillah..). Kenapa kami memutuskan rumah ini karena lokasinya dekat dengan keluarga, fasilitas pendidikan baik untuk Sya, hawanya sejuk, di sekitarnya juga ada cluster serupa, harganya masih masuk akal, dekat Mesjid, marketingnya enak diajak diskusi dan memahami kebutuhan kami, dan kami dapat rumah di pojokan dengan tambahan taman disampingnya. Ahhh lega rasanya begitu menemukan ‘the one’, tinggal gimana bayarnya aja nih.

Kata orang kalau mendapatkan sesuatu dengan mudah, maka mudah juga melepaskannya. Kami pun sudah kepikiran mau jual lagi deh begitu lunas, ganti dengan rumah yang lebih jauh tapi lebih luas. Kemudian masalah muncul di sini...

Saat hendak membeli rumah tersebut, kami kebingungan dengan proses membayarnya. Inginnya langsung lunas, tapi dananya belum ada semua karena masih tersangkut di klien. Tapi kalo pakai KPR kok rasanya sayang banget (karena setelah ditambah bunga, harga rumah jadi mahaaalll banget! Dan kami ga mau berhutang segitu banyak.) Akhirnya dengan harapan akan bisa melunasi dalam setahun kami diberi opsi libur bayar. Apa itu cash libur bayar? Begini dalam pembayaran rumah ada beberapa opsi antara lain:

  • Cash keras (harganya lebih murah dari opsi lainnya
  • KPR (bayar DP dulu sisanya dicicil, ada yang DPnya sekaligus atau “cicilanseption” alias DP dibayar cicil, lalu sisanya dicicil lagi. *aakk cicil overload! )
  • Cash libur bayar (bayar dimuka 40%-60%) sisanya setahun atau 2 tahun lagi sesuai kebijakan)
  • Cash beberapa kali (ini biasanya opsi langsung dari developernya bisa 6 kali, 12 kali, 24 kali sampai 36 kali)

Dari sekian opsi itu, kami memilih Cash Libur Bayar. Tapi, sampai sekarang dananya belum terkumpul untuk melunasi. Lalu kami terpikir menjual kembali, jadi pembelinya bayar DP sejumlah yang sudah kami bayarkan, sisanya bisa KPR. Ternyataaa ada tambahan dana ini itu, proses sulit dan lama. Padahal sudah ada saudara yang berminat dengan rumah tersebut.

Akhirnya kami coba opsi lain yakni membatalkan pembelian (mengembalikan unit ke developer dan menarik uang kami). Ealaahh, kalau seperti itu malah kami kena penalti cukup besar, sebesar harga satu mobil baru !!! :(

Padahal logikanya kan developer juga tetap untung kalau kami lepas dan mengenai penalti kecil sekitar 1-2%, karena harga rumah akan terus naik, kalau dijual lagi pasti harganya lebih tinggi dari waktu kami membeli.

Ya namanya juga awam dan keburu senang duluan akan mimpi yang terwujud, kami melewatkan beberapa poin penting saat melakukan proses beli rumah ini, yakni 
MEMBACA KONTRAK PPJB (PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI) 
Semua konsekuensi tersebut sudah ada di dalam PPJB, dan kami tidak memperhatikan karena kontrak baru dipegang saat pembayaran, which is waktu bacanya sedikit dan di sisi lain kami juga ga enak kalau makan waktu lama baca PPJB (lembarannya banyaakk!) di bank saat mau bayar. “Kalau ga jadi kan ga enak juga”, itu yang ada di benak kami. Now, kami bisa bilang itu SALAH!

Jadi ada beberapa tips untuk teman-teman yang mau membeli rumah dari kami yang sudah kena batunya:
1.     Cek Lokasi
Jangan, sekali lagi jangan percaya brosur! Jarak 5 menit kesini dan kesitu itu harus dibuktikann sendiri ya. Pakai timer kalau perlu. Cek fasilitas sekitar rumah. Cek lokasi saat pagi, siang, sore dan malam. Cek air, cek tanahnya bekas apa, ada kemungkinan hewan apa saja yang menggerayangi rumah (fyi rumah ortu saya di bogor ternyata bekas pembuangan sampah yang dijadikan cluster. Dari luar terlihat bagus tapi di dalam rumah digerayangin rayap sampai akhirnya mereka pindah!) dan cek manajemen listrik serta sampah. Cek tetangganya seperti apa. Pokoknya cek terus sampai dapat yang pas dengan kebutuhan (inget ya kebutuhan bukan keinginan, kalo ingin mah saya maunya di Eropa sekalian! Hahaha..)
2.     Cek Harga
Tanya dengan detil harganya sudah termasuk apa saja, akan keluar biaya apalagi setelah lunas. Karena setahu saya harga di brosur itu belum nett. Selain harga pokok rumah ada beberapa yang harus dibayarkan seperti notaris, administrasi alih kepemilikan, sertifikasi hak milik, asuransi kebakaran, dll. Cek harga juga termasuk membandingkan di sekitaran kawasan rumah impian harganya berapa, kenapa lebih mahal/murah apa karena bahan yang dipakai? Pakai bahan apa saja saat bangun rumah impian, apa sesuai dengan harganya. Cek harga juga termasuk ke cara pembayarannya ya.
3.     Cek Developer
Sudah jelas ijinnya atau belum atau sudah ada portfolio apa saja sebelumnya. Biar mudah, cari di google nama developer dipasangkan dengan kata negatif misalkan “penipu, bodong, palsu, dll” nanti keliatan kan dari berita yang keluar. Maaf ya kalau ada agen rumah atau developer yang baca, ini mah jujur dari konsumen. :)
4.     Cek Surat Perjanjian
Minta waktu seminggu dua minggu untuk cek surat perjanjian (jangan kayak kami ya, on the spot liatnya), kalau perlu konsul ke Notaris. Cek juga cetak biru/rencana penggunaan lahan di kantor kelurahan atau kecamatan setempat. Apakah kawasan tersebut memang untuk perumahan, bisa ditingkat sampai 2 atau 3 lantai kah? Jangan sampai sudah iyes eh taunya digusur karena buat fasilitas umum kota. Satu hal yang harus diingat: 
It's OKAY To Cancel The Deal
Once ada yang ga beres, mendingan langsung batal daripada kena buntutnya kayak kami. Ibaratnya meski sudah naksir berat tapi pas nembak syarat dan ketentuannya ga sreg di hati langsung tolak saja! Jangan baper pasti ada gantinya nanti. Hehe..
5.     Cek Kemampuan Finansial
Rumah pada dasarnya tempat kita bernaung dan melepas lelah, jangan sampai masuk rumah malah tambah lelah ingat cicilan yang menumpuk! Sekarang pun sudah banyak tipe rumah tumbuh, jadi pas beli rumahnya kecil saja tapi halaman luas atau bisa ditingkat. Begitu ada dananya, baru tambah luasnya rumah. Kenapa saya masukin ini ke tips karena ga sedikit yang mampunya beli rumah kecil, mungil, minimalis terus jauh dari mana-mana, lalu jadi minder sama orangtua atau saudara. Disyukuri dulu, masih banyak yang ga punya rumah *mendadak mamah dedeh curhat dong X)

Lalu bagaimana dengan kami? Semua tahapan cek sudah kami lakukan kecuali yang cek surat perjanjian, akibatnya sekarang kami masih mengusahakan KPR (akhirnya berutang juga) sambil berharap klien juga cepetan bayar jadi rumah bisa kami lunasi secepat mungkin. Semoga pengalaman kami ga kejadian di teman-teman ya. Teliti sebelum membeli itu benar banget. Biarin dibilang konsumen cerewet atau pelit atau di blacklist karena batal beli, yang penting kita ga rugi. :P

On Progress
Ohya, kalau teman-teman mau biaya lebih murah saat bangun rumah bisa juga dengan beli tanah sendiri lalu bangun (kalau ini ga bisa KPR ya) atau ikutan Co-Housing. Pertama baca di blognya Rahne, konsepnya masih baru di Indonesia tapi sudah lama diterapkan di luar. Kalau konsep ini yang saya tangkap cari tanah rame-rame lalu bangun bersama dengan model bisa pilih sendiri, tapi fasilitas bersama, urus surat ini-itu bersama, cari investor juga bersama. Intinya jadi developer bareng-bareng. Seru ya? :)




Stay Happy! :)







No comments:

Post a Comment