Wednesday, 23 November 2016

The best me time: SPA (Lemonade Salon & Spa)


Saya memang bukan beauty blogger tapi sebagai wanita rasanya ada sisi genitnya juga alias senang perawatan. Buat saya me time yang paling juara itu dipijet atau luluran, setelah hari yang panjang dilalui dengan banyak peran, rasanya ‘menghilang’ sebentar dalam pijetan enak itu bikin semangat lagi. Ayo tim doyan pijetan mana suaranya?? :D

Ternyata dunia perpijatan ini seru juga kalau saya jelajahi, dan kasih reviewnya karena saya juga suka bosan kalau pijetan dirumah aja meskipun praktis, pengen juga ganti suasana kan biar refreshing. Siapa tahu kan review ini berguna untuk teman-teman sebelum memutuskan pilih salon atau spa yang mana, karena kemarin saya sempat bingung mau salon apa ya, karena lihat ulasannya sedikit atau malah ga ada sama sekali, tapi begitu saya cobain eh ternyata salonnya enak.

Suatu hari di akhir pekan badan saya terasa pegal semua, tercetus deh ide mau pijet. Biasanya saya pilih salon khusus wanita, tapi sore itu beberapa salon khusus wanita yang saya datangi full booked, yah namanya juga akhir pekan pasti salon penuh, apalagi saya mendadak pesennya. Lantas saya googling deh salon sekitar Radio Dalam, munculah nama Lemonade Salon & Spa. 


"Ih apa nih, kelihatannya lucu juga” Begitu pikiran saya waktu pertama kali lihat, saya memang pernah beberapa kali lewat Salon Lemonade ini tapi belum tertarik masuk karena untuk pria dan wanita. Segera saja saya tekan nomornya di layar ponsel untuk mengetahui ada ruangan khusus wanita atau tidak bila saya mau pijat dan ternyata ada, langsung deh saya booking.



Begitu sampai saya disambut resepsionis pria, eh kok lucu biasanya yang menyambut wanita, saya langsung tersadar oh iya ini kan salon pria & wanita, hehe. Selain sambutan yang ramah saya bagaikan masuk ke dunia yang berbeda, ketika pintu dibuka harum bunga dan dentingan gamelan bali yang lembut mengembangkan senyum di wajah saya. Saya diminta naik ke lantai dua untuk perawatan dan wow! Ruangannya oke bangeett, Rapih, bersih, indah, cahaya temaramnya, aahhh langsung rileks rasanya. Pengennya langsung menyerahkan diri pada si mbak terapis, pijat aku mbaakk, pijaatt cepaattt, hehe..

Lantai 2 Dengan Bilik Khusus Perawatan

Si mbak yang baik hati langsung memijat saya, dan saya teriak! "
Waduh! Sakit! Mbak tolong pelanin dong, ujar saya. 
“Oke Kak,” katanya. 
Yes, saya dipanggil kakak karena ga bawa Sya, hehe berarti awet muda ya saya, narsis, hehe.

Sprei dan selimutnya lembut makin nyaman deh.
Ternyata bukan salah si mbak memijat tapi urat saya tegang semua, jadi disentuh saja sakit banget, dengan sabar si Mbak memijat sambil menenangkan saya yang mengaduh-aduh, pantas saja rasanya badan kok pegal banget kayak abis lari puluhan kilometer sambil angkut karung beras, pernah ga? Saya dong, belum pernah, haha..

Selama 2 jam lebih (padahal awalnya dibilang 1,5 jam) saya dipijat dan dilulur, lalu boleh mandi, sebenernya sih bisa sekalian masker badan tapi saya mau buru-buru pulang karena kakak pada kumpul di rumah. Perawatan yang bisa dilakukan di lantai dua antara lain pijat, lulur, masker, ratus kalau lihat brosurnya malah ada program pelangsingan dll. Kalau untuk creambath, meni-pedi ada di lantai satu dan ada terapis prianya, kalau buat saya yang pakai jilbab jadi kurang nyaman ya.

Kamar mandinya oke, desain minimalis tropis, tapi air angetnya setengah-setengah jalannya, jadi saya agak sedikit mengigil. Cuma overall saya puas sih, dengan pelayanannya (ekstra 30 menit!), tempatnya yang kece, suasananya yang oke dan harganya untuk pelayanan 2 jam tadi 185.000 rupiah! Beda tipis sama pelayanan spa yang biasa saya panggil ke rumah.


Will be back again? Yes for sure! :)


Lemonade Salon & Spa
Jalan Radio Dalam Raya No.44
021-27513889

Stay Happy! :)


Tuesday, 8 November 2016

Bakat Anak Ternyata Bukan Takdir

Sya Lagi Tertarik Dengan Museum, bakat apa yaa kira-kira yang Sya punya?

Sebuah undangan workshop datang dari seorang sahabat di grup whatsapp, saya langsung tertarik karena di iklannya tertulis kata GRATIS! Hehehe.
Tapi satu hal lain yang bikin saya mau ikut karena ini workshop parenting. Rasanya kalau untuk yang satu ini rasa penasaran saya ga ada abisnya, pengen terus-terusan belajar parenting. Ayo ngacung yang merasakan senasib! Hehe..

Ternyata yang membuat acara ini adalah sebuah komunitas bernama Change Maker Moms. Dibentuk oleh 3 orang dengan visi membuat Ibu Indonesia yang lebih cerdas. Caranya lewat workshop gratis dan juga kelas harapan. Yuk cek ig mereka di @ChangeMakerMoms. Begitu datang saya langsung disambut ramah, dan dijelaskan apa itu Change Maker Moms. Saya langsung tertarik karena merasa dibantu dengan program-programnya seperti workshop parenting, kesehatan keluarga, financial, entrepreneurship, art & hand writing, culinary, creative writing, pemanfaatan ICT, dll. Wah topik yang seru-seru dan pas banget buat Ibu-Ibu di Indonesia. Serangkaian workshop tadi bertujuan agar Ibu Indonesia jadi lebih cerdas, karena generasi bangsa yang cerdas berawal dari rumah, dan di Indonesia Ibu jadi fondasi dari rumah. Jadi kalau happy mom, happy family maka Ibu yang cerdas, keluarganya pun turut cerdas. Hidup Ibu-Ibu! :D *maaf narsis dikit jadi Ibu-Ibu*


Launching Change Maker Moms, sukses selalu ya!


Nah di workshop pertama ini ngomongin soal Bakat Bukan Takdir oleh Mas Andrie Firdaus. Wah saya baru tahu kalau bakat itu tidak menurun loh, misalkan saya suka masak belum tentu anak saya juga suka atau sebaliknya. Jadi ga ada itu istilah “MINI ME” atau “Anak gw banget!”
Karena setiap anak terlahir dengan potensinya masing-masing, tugas orang tualah yang harus mengasah, menggosok hingga mengeluarkan potensi itu menjadi bakat yang kemudian menghasilkan karya.


Mas Adrie Firdaus Sebagai Narasumber Bakat Bukan Takdir

Lalu bagaimana caranya?

Pertama ada 8 kecerdasan anak, setiap 8 kecerdasan itu kita beri stimulasi di usia 0-6 tahun yang kemudian dinamai FASE EKSPLORASI. Dari situ bisa ketahuan minat dan bakat anak ada di mana.
Cara eksplorasinya bisa dengan bercerita, mengenalkan beragam profesi, mengajak ke kegiatan yang berhubungan untuk melihat respons anak, diikutkan les atau belajar otodidak di rumah dengan youtube mungkin, banyak caranya tinggal pilih sesuai kemampuan waktu, tenaga dan biaya.

Setelah itu FASE EKSPLORASI MENDALAM, usia 7-13 tahun berarti selama Sekolah Dasar ya?
Di fase ini anak bisa difokuskan kepada beberapa minat dan bakat yang ia sukai. Pertanyaan saya, bagaimana dengan sebutan anak multi talenta, memang beneran ada? Sebaiknya bagaimana memfokuskan minat dan bakat anak. Jawaban Mas Daus cukup menarik, memang ada kemungkinan anak suka banyak hal dan itu bagus-bagus saja tapi baiknya difokuskan ke 3 hal yang siapa tahu kedepannya 3 hal itu bisa berkolaborasi. Seperti suka piano dan menulis bisa diarahkan membuat blognya sendiri tentang bermain piano atau menulis lagu.
Hmmm, I see.

Fase berikutnya yakni FASE PENGARAHAN KARIR di usia 14-18 tahun , dari minat dan bakatnya anak mulai dikenalkan arah karirnya. Tak melulu harus bekerja di kantoran atau pekerjaan mainstream seperti Presiden, dokter, pilot, dll. Tapi kenalkan anak pada kemungkinan pekerjaan sesuai minat dan bakatnya. Mungkin dia suka mendengarkan musik, mungkin bisa jadi composer ke depannya. Suka baca bisa bekerja sebagai penulis, pustakawan, punya library sendiri mungkin, dsb.
Bagaimana bila di fase ini minat dan bakat anak berubah? Atau anak punya pilihan lain, bagaimana menyikapinya? Mas Daus berpesan untuk menanyakan kembali pilihan tersebut, lalu dilihat kosistensinya (apakah ada motivasi dari anak untuk menjalani minat dan bakat barunya, seperti apa tekadnya), kemudian di refleksikan lagi artinya dievaluasi lalu diberi tahu anak hasilnya kemudian membuat pilihan lagi bersama.
Di fase ini (dan fase sebelumnya) anak mulai menghasilkan karya atau portfolio bisa berupa ikut pertandingan atau bikin karya sendiri yang dipajang. Disini peran orangtua juga besar seperti mencari events untuk portfolio tersebut, lalu wadah portfolionya mau seperti apa (misalnya difoto atau di video masukin youtube, dibukukan, dsb.).
Fase ini juga penting bagi anak untuk mengetahui kemana tujuan sekolah berikutnya, termasuk penjurusan di perguruan tinggi.

FASE KARIR 18 tahun - dst. Di Fase ini anak sudah yakin akan pilihannya sesuai minat dan bakat tinggal mengumpulkan portfolio dan pengalaman kerja serta memperluas networking untuk nantinya berkolaborasi.


4 fase itu idealnya, lalu bagaimana bila berubah? Diulang kembali ke fase eksplorasi. 4 fase ini juga berlaku bagi orang dewasa, termasuk saya, hehe.

Saya langsung merefleksikan diri di jaman saya kecil. Hobi itu hanya sampingan, yang penting sekolah, saya terus mencari-cari apa sih minat dan bakat saya, ikut psikotes sana-sini dengan hasil yang samar-samar bahkan sampai pindah kerja berulang kali demi mencari kesukaan saya dimana sih. Dan setelah sekian lama saya baru ‘ngeh’ oh ternyata saya suka tulis dan bisa menulis.

Kondisi saya ini merefleksikan prilaku the millenials alias generasi saya. Bacaan kami bukunya Mas Rene CC tentang your job is not your career karena saking bingungnya bedain pekerjaan dan karir. Ucapan setelah lulus kuliah ga jauh dari “Welcome to the jungle” lalu kami berlomba mencari pekerjaan di kantoran dengan gaji yang oke. Ternyata ga sampai setahun sudah cari pekerjaan di kantor lain karena ngerasa “ga gw banget ini kantor/job desk” atau “disana bayarannya lebih tinggi”. Saya dan teman-teman ada di fase eksplorasi setelah lulus kuliah, and that’s too late.

Padahal kalau dimulai sejak dini, kesempatan dan kemungkinan pintu terbuka akan lebih banyak lagi. Seperti Nuh Evita yang jadi fashion blogger sejak usia 10 tahun sekarang sudah punya kantor sendiri di usia 18 tahun, dsb. Atau Evan& Jillian kakak beradik youtuber dari usia 3 tahun, dan masiiihh banyak lagi.

Iri? Ya ada rasa iri sedikit yang saya rasakan, ingin juga bisa tahu apa minat dan bakat saya sejak kecil jadi ga pusing pas milih jurusan di SMA (saya sempat dilema mau IPA atau IPS) apalagi jurusan kuliah dan pusing cari pekerjaan setelah lulus. Kalau digambarkan sebagai rute jalan itu mah sudah nyasar dari Jakarta ke Jawa, terus jalan ke ujung Bali, balik lagi ke Jawa barat, naik ke Kalimantan, nyebrang ke Papua, muter di Maluku, terbang ke Sumatera, ya pokoknya rumet sendiri deh, hahaha.

Tapi kalau ditanya menyesal ga? menyesal tentu tidak. Pengalaman ini justru memicu saya untuk semakin mengeksplorasi Syakira, supaya ia menjalani hidup sesuai minat dan bakatnya. Bukan berarti ga boleh bingung atau galau, ya boleh saja tapi ga sampai hilang arah.

Eh lalu kalau bakat anak ternyata sama kayak orangtua bagaimana? Katanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya?

Punya pertanyaan serupa? Boleh loh kirim di kolom komentar nanti saya tanyakan ke Mas Daus atau parkar lainnya dan bikin part 2-nya. Oke? :)


Saat Ibu-ibunya Belajar, Anak-Anak Asyik Main

Ibu-Ibu Peserta Workshop


Stay Happy! :)