Monday, 6 February 2017

KILASAN JANUARI: SYA MULAI SEKOLAH

Hari Pertama Sekolah
Hai!
Kangen banget ngeblog, hampir 1 bulan saya absen! Ya ampun!
Bulan Januari banyak hal besar yang terjadi sama saya seperti amanah pekerjaan yang nambah dan juga Sya mulai sekolah!



Awalnya saya dan suami ga setuju Sya mau sekolah di usia dini (2,5 tahun saat pertama kali ia minta sekolah, sekarang ia 3 tahun 4 bulan). Akhirnya kami coba arahkan ke homeschooling dimana saya yang jadi gurunya. Saya sudah lengkapi dengan alat-alat dan pelajaran yang dia butuhkan untuk homeschooling. Kesannya serius banget ya, padahal cuma main mewarnai, tarik garis, gunting-gunting, ronce, origami, lem-lem aja kok. Hehe..

Awalnya Sya suka, setiap bangun pagi dia langsung minta main sekolah-sekolahan. Sampai saat saya mulai ajak trial liat sekolah ia menolak, malah mintanya homeschooling aja sama Bundanya. Jadilah saya yang kebingungan sendiri, padahal ya namanya juga anak kecil pikirannya masih berubah itungan 10 detik hahaha. Saya sempat tanya juga ke psikolog apakah keputusan Sya sudah tetap atau masih bisa berubah? Jawabannya ya masih akan berubah diperhatikan aja dan di review terus, kalau 3 kali review masih tetap sama inginnya homeschooling maka bisa dipertimbangkan. Baru 2 kali review eh kejadian kan, Sya minta sekolah pas di akhir Desember 2016.

Yaudah kami tawarkan sekolah pilihan kami yang berjarak sedikit jauh dari rumah, yang satu sekolah berbasis agama satu lagi sekolah internasional. Berbasis agama karena ya orang tua mana yang ga mau anaknya alim kan ya, kalau sekolah internasional itu keinginan Ayahnya lantaran kasihan liat anaknya suka ngomong nyampur pakai Bahasa Inggris & Indonesia. Kedua sekolah tadi jadi pilihan karena kami tahu lingkungannya akan baik untuk Sya.


Sya malah minta sekolah dekat rumah, yang cuma jalan kaki sampai! Hehe, bocah ini memang ya, diajak ke mall mintanya pasar malam, dimasakin salmon lebih doyan lele, dikasih sekolah bagus maunya yang dekat biar bisa jalan kaki aja. Awalnya saya dan suami ya ragu apa benar sekolahnya bagus, apa benar Sya bisa betah. Ternyata setelah beberapa kali trial (yup sekolahnya baik banget Sya 3 kali trial) kami melihat antusias Sya besar banget setiap mau sekolah. Kami pun sepakat, oke Sya mulai sekolah.

Hari pertama sekolah saya masih menunggui di halaman luar sekolah. Saat pulang sekolah Sya bilang, “Bun, besok Sya diantal aja telus Bunda pulang, kayak teman-teman Sya ga ada yang ditungguin.”
Oke deh, agak sedih juga sekaligus senang anak saya udah gede nih. Hehe..

Hari kedua masuk sekolah, Sya biasanya susah dibangunin pagi. Hari itu saya bisikin saat membangunkan Sya, “Sya, ayo bangun, katanya mau sekolah”. Seketika ia bangun dong, “Oh iya, Sya mau sekolah, Sya mandi dulu ya Bun”, ujar Sya sambil berlalu ke kamar mandi dan buka bajunya sendiri. Saya? Masih bengong, takjub ama kelakukan balita satu ini. Hihi.

Hari ketiga dan seterusnya Sya senang-senang aja kalau mau berangkat sekolah selalu semangat. Saya juga menikmati ternyata sekolah dekat itu enak, cukup diantar jalan kaki pun sampai dan saya punya waktu luang di pagi hari. Selain itu dari segi biaya ternyata ga semahal sekolah pilihan saya dan suami, jadi sisanya bisa ditabung untuk sekolah Sya berikutnya. Mengejutkannya lagi, ternyata sekolahnya bagus! Basisnya agama, Sya malah jadi hapal hijaiyah, dan gemar shalawatan, wah Alhamdulillah banget.

Meskipun awalnya antusias ternyata ada hari dimana Sya ga mau sekolah, “Sya ga mau sekolah, telasa capek gitu Bun.” Hari jumat itu saya ijinkan Sya ga sekolah, karena badannya capek, lagipula saya dan suami terlalu capek berdebat karena semalam habis berkunjung ke kerabat yang meninggal. Saya juga mau lihat sejauh mana sih ia beneran niat sekolah, cuma 3 minggu banget nih? Sekitar jam 10 pagi kami sekeluarga pergi takziah dan melewati sekolah Sya, ia lihat sendiri teman-temannya pulang sekolah. Sya terdiam, sambil terus melihat sekolahnya, lirih ia berkata, “Sya mau sekolah, Bun.”

Saya jelaskan kalau sekarang sudah terlambat, Sya melewatkan satu hari bermain dan belajar bersama teman-temannya. Kalau mau sekolah baru bisa nanti di hari Senin. Terlihat penyesalan yang dalam dari raut wajah Sya, ia diam sambil merengut. Bibirnya mengerucut.

Dari pengalaman ini semua kami belajar kalau prinsip “asal anak senang” baiknya diterapkan sekarang. Lagipula untuk playgroup dan TK lebih untuk sosialisasi anak daripada belajar. Saya juga ingat waktu TK ya kenangannya tentang bermain, punya teman, punya teman berantem, bukan tentang PR yang susah, hehe.

Kami belajar juga dari Sya untuk bahagia hanya dengan hal sederhana seperti jalan kaki ke sekolah, sekolah lebih murah ga masalah yang penting bahagia, teman-teman baru dari segala kalangan.

Sya belajar banyak sekali mulai dari bertanggung jawab dengan pilihannya, menyiapkan keperluan sekolah, pakai baju dan sepatu sendiri, bawa tas sendiri, dsb.

Coba Seragam Baru!




Sya's OOTD

Sungguh pengalaman berharga di awal tahun 2017. Bagaimana tahun awal tahunmu, teman-teman? Ada pengalaman apa saja? Share yuk di kolom komentar.


Stay Happy! :)



No comments:

Post a Comment