Tuesday, 13 June 2017

CERITA DARI KAMAR 705





“Bun, it’s too hard”

Ujar sya lemah sambil memandangi tangan munginya baru saja disemati jarum infus. Mimik wajahnya sedih bercampur lelah karena dari semalam ia susah tidur akibat panas tubuhnya yang tinggi tak kunjung reda.

--------

Ibu mana yang tak ikut sedih jika anaknya sakit, rasanya pengen dipindah aja sakitnya ke badan kita ya ga? Kita aja deh yang ngerasain sakit, ga usah anak. Tapi kali ini nasib berkata lain, Sya sakit panas tinggi. Awalnya saya ga cemas, karena Sya tipe yang kalo sakit panasnya langsung tinggi dulu pernah dirawat karena ga bisa minum obat, sekarang udah bisa minum obat panas jadi harusnya sehari dua hari panasnya reda dong, begitu pikir saya. Tapi dua kali dikasih obat panas, cuma turun sedikit lalu naik lagi ke angka yang lebih tinggi dari sebelumnya.





Akhirnya malam itu kami bawa ke UGD karena kehabisan juga obat panas yang dari (maaf) dubur. Setelah di cek darah dan visit dokter ternyata selain panas, Sya juga dehidrasi dan katanya sih ada infeksi di perutnya jadi perlu diinfus dan dirawat. Tapi Sya sudah meraung-raung nangis ga mau di rawat, mungkin ia masih trauma. Akhirnya dokter kasih 4 macam obat untuk Sya salah satunya antibiotic Cefixim. Karena Sya berjanji akan minum obat di rumah, jam 2 pagi kami putuskan untuk pulang.

“Bleh..,Ueekk…”
“Sya ga mau!”
“Obat yang itu ga enak!”

Impian untuk rawat di rumahpun buyar, Sya menolak obat Cefiximnya, ia muntahkan berkali-kali setiap obat disuapkan ke mulut mungilnya. Dari satu botol penuh sekarang tinggal setengahnya dan itu semua terbuang karena muntahan, elakan tangan dan semburan Sya. Badan Sya semakin panas tinggi dan gemeteran. Saya rasanya mau marah karena obat yang terbuang percuma, tapi juga sedih tak terperi lihat Sya panas gemeteran, ditambah lelah belum tidur semalaman sungguh menguras fisik dan mental.

Labu Infus Pertama


Akhirnya kami kembali ke rumah sakit dan Sya segera diinfus untuk masukan parasetamol bergantian dengan cairan Glucose + NaCl. Sya kayaknya juga merasakan keanehan dalam tubuhnya rasa panas, pusing, lemas, bergetar jadi satu sampai ia berkata lirih “Bun, it’s too hard”.

Hati saya mencelos, sesaat rasanya bulir air mata sudah berbaris siap menuruni pipi kalau saya tidak segera ingat saat itu bulan puasa, mungkin ini ujian bagi kami. Saya tarik napas sambil berdoa dengan bibir yang bergetar coba torehkan senyum untuk Sya. “I know Sya, this too shall pass.”

Sejak di rawat, panas Sya tidak kunjung turun stabil selalu naik kembali setelah efek obat habis. Sudah cek urin dan darah untuk kedua kalinya. Hasilnya? Tidak ada infeksi, tidak tipes, tidak demam berdarah, tidak ada bakteri, hanya ada sedikit tanda dehidrasi. Setiap ditanya Sya sakit apa? Saya juga bingung, wong dokternya aja juga bingung. Alhasil cuma bisa jawab ada virus bandel dan dehidrasi. Virusnya apa? Meneketehe! Alias mana ku tahu. :(

Ada sejumlah keluarga dan teman memberikan artikel tentang penyakit tertentu seperti Kawasaki, Meningitis, dll. Setelah dicocokan dengan ciri-ciri yang Sya alami ternyata tidak cocok. Gemas ga sih, udah dirawat tapi sakitnya apa ga ketahuan? Kalo virusnya wujud orang udah saya ajakin berantem nih, bikin anak gw sakit aja! :(

Di puncak kesebalan dan saking gemasnya saya sampai marah sendiri, sudah capek karena bergadang tiap hari, tetap berusaha kuat puasa, ditambah kerjaan yang tetap ga bisa libur, dan angka tagihan rumah sakit terus bertambah, pikiran dan tenaga saya terkuras habis sampai ingat mandi aja ga. Sudah begitu ga ada sumber penyakit yang jelas yang bisa saya salahkan, seperti bingung mau menyalahkan ke apa atau siapa. Gimana sik kalau kesal ditahan-tahan buibu? Begitu kesenggol langsung meluap lah amarah saya! Untungnya suami selalu mengingatkan untuk berdoa karena hanya itu satu-satunya cara menjadi ikhlas untuk terima segala ujian dari Allah termasuk penyakit.

Perlahan sumbu amarah saya meredup, saya coba ikhlas menerima mungkin dengan begini saya dan Sya jadi dekat banget karena 24 jam saya pegang terus. Biasanya Sya suka dicuekin kalau saya sudah banyak kerjaan. Dia sering merujuk, bersungut di tepian meja kerja saya, atau sering marah-marah karena saya ga bisa fokus ketika bermain dengannya karena kepikiran kerjaan.

Kesempatan ini mungkin Allah datangkan supaya kami sekeluarga makin dekat. Akhirnya kami sekeluarga jadi lengket deh sampai sekarang padahal sebelumnya sering berantem hal-hal sepele. Sya jadi lebih nurut, suami dan saya juga lebih jarang marah dengan Sya, saya dan suami juga jarang bersitegang. Semua bisa dibicarakan baik-baik jadi prinsip kami sekarang. 

Dikunjungi Pakde Bagus Kesayangannya Sya

Selain itu dalam kesusahan kita bisa melihat siapa yang sesungguhnya 'keluarga' kita. Disitulah saya terharu sekali dengan ucapan dan doa untuk kesembuhan Sya dari banyak pihak, tak hanya keluarga dan sahabat tapi juga teman yang sudah lama tak bertemu tapi begitu peduli pada Sya. Hati saya terasa hangat, begitupun mata saya, tapi kali ini tangisan haru dan berterima kasih yang turun membasahi. Meskipun kecil ternyata sebuah doa, ucapan dan dukungan walaupun hanya lewat sosial media sekalipun sangat berarti ya.




Setelah 5 hari Sya diperbolehkan pulang, masih dengan penyakit yang tak diketahui sumbernya. Tapi dari kamar 705 di sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Selatan, kami (saya terutama) belajar banyak akan arti ikhlas serta nilai keluarga yang tak ada duanya dan dahsyatnya silahturahim. 

No comments:

Post a Comment