Tuesday, 11 July 2017

LEBARAN 2017

Sebenarnya ga ingin terus berbagi kesedihan tapi cerita ini akan berbuah manis pada post berikutnya. Jadi setelah Sya sakit dan dirawat hampir seminggu di awal bulan puasa. Drama sakit kembali terjadi di akhir bulan puasa, tepatnya seminggu sebelum Lebaran. Sya panas tinggi! Mulai hari selasa, 20 Juni 2017. Tapi syukurlah kali ini Sya sudah mau minum obat. 


Namun panasnya hanya turun sebentar lalu naik lagi, kejadian ini terulang terus hingga hari Sabtu kami putuskan bawa Sya ke UGD karena sudah libur Lebaran, klinik anak tutup, dan mulai muncul ruam merah mulai dari belakang leher Sya sampai mulut. Sya segera diberi infus parasetamol dan cairan tubuh serta cek darah untuk ketiga kalinya di bulan yang sama. Lagi-lagi cek darahnya ga menunjukan ada kendala berarti kecuali angka bakteri yang tinggi. Berbagai spekulasipun datang mulai dari morbili, rubella, atau campak. Akhirnya dokter jaga menghubungi dr. Margaretha Komalasari, dokter anak langganan Sya, kami yang sudah siap-siap bawa koper, selimut, bantal dan perlengkapan menginap di rs, ternyata bisa malam takbiran di rumah saja, syukurlah. 

Sesampai di rumah, orangtua saya mengirimi kelapa hijau muda yang dibakar katanya ampuh untuk keluarkan semua ruam di seluruh badan anak biar cepat sembuh. Sya langsung minum, dan efeknya terasa dua hari kemudian, entah itu beneran karena kelapa muda atau memang sudah waktunya ruam keluar. 

Jadi selama Lebaran kami di rumah aja, ga silahturahmi kemanapun, saya juga melewatkan Sholat Ied karena menjaga Sya (sebenarnya ketiduran juga sih semalam bergadang, hehe..). Sedih? pasti. Biasanya saya mengunjungi orangtua pada malam takbiran dan hari pertama Lebaran, kali ini hanya bisa video call. Tapi melihat Sya yang lebih sedih lagi, dia berharap pada hari Lebaran sudah sehat kembali tapi yang terjadi malah sebaliknya plus Sya ga bisa dikunjungi karena takut menularkan kepada yang lain. 



Lebaran saya dan Sya hanya bisa menatap pemandangan birunya langit Jakarta yang jarang terjadi. Itu saja kami sudah senang sekali. Sayup-sayup terdengar takbir, bibir latah ikut mengalunkan takbir yang hanya ada setahun dua kali itu. Sembari mata tak hentinya menatap jendela dan kepala merenung, coba memahami maksud dari semua kejadian di bulan puasa tahun ini.