Friday, 27 October 2017

NO GADGET NO WORRIES





Gemas ga sih kalau lihat di restoran ada keluarga ngumpul eh anaknya asyik main gadget atau lagi kumpul keluarga ga ada lagi anak kecil berlarian main bersama karena sibuk sama tabletnya masing-masing?

Saya gemas karena anak saya sendiri sempat seperti itu! Ya ampun, kalau sudah megang gadget mau diajak ngomong atau ditawarin makan, sunyiiii ga ada jawaban. Mulut sama matanya terkunci pada layar. Akhirnya Sya detoks gadget dan jadi bahan renungan kenapa saya serta suami memperkenalkan gadget pada Sya, tujuan awalnya sih pendidikan kenapa akhirnya malah negatif?

Read More: Detoks Screen Time



Ternyata saya ga sendirian, ada 85% orangtua lainnya di Asia Tenggara ini yang memberikan gadget pada anaknya dengan tujuan pendidikan tapi kenyataannya berbanding terbalik yakni 72% anak menggunakannya untuk bermain!

Kali ini saya bicara ada datanya hasil oleh-oleh dari seminar No Gadget No Worries yang diselenggarakan Babiesand everything, Central Dept. Store GI, Magformers, Tiga Generasi dan TynaMirdad. Putu Andani, psikolog dari Tiga Generasi menjelaskan kalau 99% pemberian gadget itu justru terjadi di rumah, 71% saat berpergian, 70% di rumah makan dan 40% di rumah teman. Lah kenapa bisa lebih besar di rumah?

Teman Belajar Saya Hari Itu

Putu Andani, Msi., Tyna Kanna Mirdad dan MC


Ternyata kesibukan Ibu atau pengurus anak di rumah menyebabkan anak dialihkan perhatiannya pakai gadget. Saya jadi ingat waktu awal bikin online shop jualan kue. Sibuk banget kan tuh beli bahan, bikin pesanan, jawabin chat orang yang tanya-tanya mau pesan, jadi sering banget saya megang ponsel dan computer karena semuanya diurus sendiri. Jadi Sya saya biarkan nonton.


Pasti juga banyak ibu-ibu yang yang kayak gitu kan? Sibuk urus rumah, urus anak, belum lagi kalau ingin tambah penghasilan maka terjun ke online shop karena anggapannya bisa dilakukan dari rumah dan waktunya fleksibel. Tyna Mirdad berbagi juga pengalaman yang sama, ia sempat keteteran akhirnya ia sewa admin untuk jawab-jawabin pelanggan. Menurutnya ga rugi kok kalau kita cari pegawai khusus untuk admin, karena bisnis kita juga akan lebih berkembang dan pelanggan puas. Jangan pikirin masalah ngegajinya dulu, karena begitu punya pegawai, kita jadi termotivasi untuk mengembangkan usaha demi bisa bayar pegawai itu setidaknya.

Mending bayar pegawai daripada anak yang jadi korban deh. Soalnya kalau kecanduan gadget bisa mengakibatkan:
  • Perkembangan fisik dan motorik terhambat
  • Sulit konsentrasi
  • Mudah bosan dan tantrum
  • Mengabaikan tugas
  • Kemampuan bicara dan social kurang berkembang


Psikolog Putu Andani juga memberikan contoh beberapa kasus yang ditanganinya, seperti bayi umur 1,5 tahun marah karena ga bisa balik majalah. Anak umur 2 tahun susah ngomong. Anak umur 6 tahun belum bisa duduk tenang di kelas apalagi menulis. Itu semua karena kecanduan gadget sejak kecil.

Kebayang ga itu baru satu anak, bagaimana kalau satu keluarga anaknya seperti itu semua, berkembang ke satu lingkungan punya anak kecanduan gadget lalu jadi satu generasi anak kita jadi indivualis, mudah marah, bahkan mengabaikan tugas saat sudah SMA atau kuliah. Belum terlambat untuk mengubahnya. Yuk orangtua, kalau bukan kita lalu siapa lagi yang mengarahkan anak menuju masa depan cerah gemilang?

Kalau sudah kecanduan gimana caranya?

Bisa dengan detoks gadget selama seminggu tidak dikasih gadget lalu mulai batasi penggunaan gadget. Saran praktisi sih anak umur 0-2 tahun tidak boleh kenal gadget sama sekali karena anak sebenarnya tidak kekurangan apapun kok. Biarkan dia mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Usia 2-3 tahun baiknya tidak lebih dari 30 menit sehari, usia 3-5 tahun 1 jam sehari dan lebih dari 5 tahun maksimal 2 jam dalam sehari. Dengan catatan orangtua tetap harus mendampingi anak saat bermain gadget. Selain untuk mencegah anak melihat konten tidak baik juga untuk mengajak anak berdiskusi dengan begitu imajinasi anak dan kemampuan berbicaranya tetap ada.

Untuk yang anaknya masih bayi, yuk mulai perkenalkan mainan dan buku khusus anak daripada langsung gadget. Perdengarkan lagu juga tidak usah dari gadget tapi dari ibu atau pengasuhnya saja sudah cukup kok. Meski suara pas-pasan bagi si anak suara orangtua itu paling merdu (mumpung mereka belum nyadar, hehe). Dan pastinya bermain dengan anak tanpa terganggu gadget. Untuk pembahasan ini akan ada di post berikutnya ya.


Orangtua pasti ingin yang terbaik bagi anak, berkorban sedikit waktu kita dengan gadget demi tumbuh kembang anak yang lebih baik yuk. Masa anak-anak cuma sementara, begitu mereka beranjak dewasa jangan sampai kita menyesal. Setuju?



No comments:

Post a Comment