Monday, 13 November 2017

AJARI ANAK BELANJA DENGAN BIJAK



Loh kok diajari belanja? Ga jadi konsumtif nantinya?

Pas saya ikut kelasnya QM Financial di Festival Pendidikan, baru deh dikasih tahu selama ini kita hanya diajari menabung saja tapi ga diajari juga cara belanja sehingga saat dewasa suka bingung menentukan kala prioritas dalam keuangan kita. Ga heran, banyak yang jadi konsumtif dan terjebak utang sana-sini karena itu tadi, tidak terbiasa berbelanja dengan benar sedari kecil.



Kalau prinsip menabung sudah pasti paham ya, sisihkan uang jajan ke dalam tabungan lucu dan menarik atau masukan ke bank suapaya anak punya atm sendiri. Nah untuk mengajari anak belanja ini nih yang harus dibiasakan. Namanya juga orangtua ya, kadang anak ingin ini itu tanpa pikir panjang langsung kita belikan kalau ada rejekinya. Tapi kebiasaan seperti ini harus mulai ditinggalkan caranya:

1. Ajak anak mengenali kebutuhan dan keinginan. Anak baiknya dikenalkan apa sih kebutuhan dasar mereka seperti makanan, pakaian, pendidikan, rumah untuk tinggal. Sedangkan di luar itu hanyalah keinginan terutama mainan.

2. Buat kesepakatan dengan anak. Sesuai kesepakatan kalau keinginan anak bisa didapat dengan menabung. Misalkan anak ingin mainan baru. Ajak anak bersepakat untuk menabung demi punya mainan baru itu.

3. Tabungan bisa berupa celengan atau lebih baik lagi di bank atau tabung ke orangtuanya dengan sistem pembukuan. Agar anak bisa lihat perkembangan tabungan mereka.

Akhirnya saya coba praktikan nih tipsnya. Kalau untuk tabungan Sya sudah dibiasakan dari usia 2 tahun, tapi kenyataannya setiap dia mau beli mainan masih juga saya atau ayahnya rogoh kocek sendiri. Hmm, belum tega. Tapi makin kesini saya perhatikan Sya sudah mulai minta ini-itu tanpa dipikirkan dulu. Apalagi kalau pergi ke mall, tujuan awal sama hasil akhirnya pasti beda! Awalnya cuma mau beli sepatu, pulangnya bawa mainan lah atau beli buku baru. Duh, ga bisa nih kalau didiamkan, tekor saya. Selain itu, anak jadi terbiasa minta ini-itu seenaknya. Sudah alarm nih.

Saya coba terapkan tips di atas dengan susah payah. Setelah Sya merengek minta ini itu, saya tegaskan apa keinginan dan kebutuhan dia. Karena beli mainan masuknya keinginan makan Sya harus pilih salah satu celengannya yang mau dipakai. Mudah? Tentu Tidak! Pasti anaknya berontak karena sudah terbiasa kan. Tapi ya kita harus sabar-sabar, kasih pengertian sampai anak jelas dan paham.

Kata sepakat akhirnya dicapai. Kami bongkar bersama si celengan itu lalu hitung. Belum sampai setengah menghitungnya, Sya udah capek ketiduran, hehe. AKhirnya sisa hitungannya saya yang selesaikan.



Keesokan harinya kami pergi ke toko mainan dan membeli mainan yang ia inginkan dengan jumlah uang yang ada di celengan (lumayan juga recehan yang berhasil dihitung ada 85.000 rupiah). Tidak saya tambahkan, biar Sya tahu. Sebenarnya ga tega juga lihat sorot matanya, yang setiap nunjuk mainan dengan lugunya ia bertanya, “Bun kalau yang ini cukup ga tabungannya?” Tapi harus ditega-tegain ya ga buibu? Biar sama-sama belajar belanja yang bijak.



Untunglah lagi musim diskon, jadi Sya dapat mainan dengan setengah harga. Mainannya juga sederhana saja, playdough dengan figure Cinderella. Meskipun cuma segitu aja, Sya senang banget. Begitu saya ceritakan ke ayahnya, sempat ayahnya juga merasa ga tega. Namun seminggu kemudian saat kami keliling mall, ga ada lagi tuh rengekan Sya minta ini-itu. Alhamdulillah, cara ini berhasil di kami, selamat mencoba ya semoga berhasil juga di teman-teman.





No comments:

Post a Comment