Wednesday, 8 November 2017

FESTIVAL DONGENG INTERNASIONAL INDONESIA 2017


Festival Dongeng Internasional Indonesia ini jadi event wajib yang kami kunjungi tiap tahun. Tahun lalu, kami senang banget ke Museum Gajah bersama Eyangnya Sya. Asyik main di booth permainan tradisional dan berkreasi cetak tas lalu mendengarkan dongeng di panggung utama.

Tahun ini juga ga jauh beda, begitu dengar mau ada Festival Dongeng, Sya langsung semangat! Setiap hari nanyain, "kapan Bun acaranya?". Saat Sabtu pagi, kami bangun agak kesiangan, biasa deh Sabtu jadi hari malas-malasan. Tapi begitu saya ingatkan Sya kalau kita mau ke FDII 2017, dia langsung ceria dong siap-siap dan mandi.


Dengan Uber kami menembus kota Jakarta yang cenderung sepi di hari Sabtu pagi, sepanjang jalan Sya terus mengulang ingatannya tentang FDII tahun lalu. Kayaknya beneran berkesan banget buat si bocah.

Sebenarnya jauh sebelum acara dimulai sudah ada beberapa kelas khusus supaya lebih fokus. Ada kelas belajar mendongeng (tiketnya berkisar 250.000) ada juga kelas dongeng durasi 1 jam dengan pendongeng dari luar negeri (tiketnya mulai dari 50.000 rupiah). Tiket bisa dibeli di www.wewocraft.com . Tapi sayang saya ga bisa ikutan karena ga tahu bisa datang tepat waktu, mengingat weekend pengennya lebih santai kan, hehe..

Jadilah kami ikutan nonton dongeng yang gratisan aja. Begitu masuk Perpusnas (yang baru di renovasi dan jadi keren banget!) sudah ada pojok baca. Sya langsung mampir lesehan di situ, hikmat mendengarkan cerita dari kakak-kakak.



Keluar gedung pertama Perpusnas ada geung perpustakaan yang tinggi banget, lantainya aja sampai 24 kalau ga salah. Wow! Keren! Dulu saya sempat beberapa kali ada acara di Perpusnas jaman masih SMA sampai kuliah, jadi takjub banget lihat perubahannya.

Begitu masuk ada panggung utama yang isinya gentian berbagai macam pendongeng tampil di sana. Sya senang banget sampai maju ke depan panggung dan ditegur panitia berkali-kali, hehe. Hari itu kami nonton Sarang Cerita yang mengkreasikan bercerita sambil bernyanyi. Bagus banget, saya pun dan beberapa orangtua ikut bersenandung, ingat lagu masa kecil mulai dari Pemandangan, Di Pucuk Pohon Cemara sampai Bermain Musik-nya Sherina. Videonya ada di instagram saya ya.

Berfoto dengan Sarang Cerita


Selanjutnya ada Bengkimut yang bercerita tentang kesedihan ditinggal temannya pindah, tapi ia mendapat banyak teman baru dari lingkungan sekitar.



Terakhir kami nonton Kiran Shah dari Singapore. Mendongeng tentang pohon ajaib yang mengatasi kemarau di Afrika. Karena dari Singapore, tentu saja Ibu Kiran Shah pakai Bahasa inggris, tapi tenang saja ada translatornya kok.





Masih banyak pendongeng lainnya sepanjang acara, tapi kami coba mengeksplorasi lantai lain di Perpusnas. Kami naik ke lantai 7, tepatnya di Taman Bacaan ada dongeng gratis juga dari pendongeng lokal. Awalnya Sya tertarik, lalu ia malah kalap lihat koleksi buku-buku yang beragam dan bagus-bagus banget! Lupakan koleksi buku lama dan berdebu ala perpustakaa sekolah jaman kita dulu, ini mah udah sekeren perpustakaan yang bayar kayak Rimba Baca gitu. Selengkapnya tentang Perpusnas akan dibahas di post berikutnya ya.

Read More:  Readate di Rimba Baca



So far, senang banget sih ke FDII 2017 selain Sya bisa puas dengerin dongeng, saya juga ketemu teman lama, jadi bisa mampir cerita bentar, hehe. Cuma kami lupa bawa payung, pas hujan wah bingung deh karena untuk pindah ke gedung satunya lagi ga ada penutupnya. Kemudian ingat FDII 2016 dimana transaksi kebanyakan pakai tunai, jadi kali ini sudah siap bawa uang tunai untuk beli makanan dan belanja di bazarnya. Tapi saya cuma ketemu bazar di lantai 3, yang booth aktivitas anak ga ketemu tuh. Mungkin karena kurang eksplor ya.

FDII 2016: Ada booth kreativitas anak



Ohya, saya juga ga bawa mobil karena ingat parkir tahun lalu di Museum Gajah agak ribet, tapi ternyata begitu mau pulang kan pas hujan mau pesan Uber duh mahal banget, akhirnya begitu hujan reda, kami ke halte depan Perpusnas dan naik taksi Blue Bird dari situ dengan harga setengah dari uber. Selain itu juga banyak bajaj, dan kalau mau nunggu Trans Jakarta juga lewat langsung di depan Perpusnas. Sebelum taksi beranjak pulang, kami sempat lihat ada bus wisata yang tingkat itu. Ah, berikutnya kita coba yuk nak. :)

No comments:

Post a Comment