Thursday, 21 December 2017

UNTUK KAMU YANG TERUS BERJUANG, IBU


Happy Mother’s Day for all the women that I know.


Ibu, bukan sekedar sebutan untuk mereka yang sudah pernah melahirkan. Bahwasanya setiap wanita sudah memiliki sisi keibuan, tergantung bagaimana kita melihatnya dan masing-masing kita punya cerita keibuannya sendiri.

Hari ibu kali ini saya tidak membahas Ibu saya, tapi teman-teman saya, Ibu-Ibu yang hidup di jaman milenial. Mereka bukan artis, bukan juga selebgram yang setiap lini kehidupannya terekspos baik di sosial media ataupun infotainment. Tapi perjuangan mereka nyata dialami setiap hari. Cerita mereka ada di sekeliling kita dan seringkali mendapat komentar tak henti dari orang sekitar.



Ada sisi keibuan yang menuntun wanita untuk menyayangi anak-anak, baik yang terlahir dari rahimnya sendiri atau tidak. Ada keinginan memiliki suatu hari nanti, atau mata berlinang penuh harap melihat tawa anak kecil atau bahkan kerinduan mendengar tangisan bayi di rumah. Itu sudah Ibu.

Cerita teman saya dimulai dari seorang Ibu yang berusaha memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah. Ada yang memilih cara santai, ada yang menempuh berbagai cara, ada juga yang akhirnya mendapatkan lalu kehilangan. Segala emosi, tenaga dan materi terkuras demi hadirnya buah hati yang tak kunjung datang. Merasa hampa saat sendiri, tak punya tujuan dalam hidup, namun tetap mensyukuri setiap rencana Tuhan. Tahukah kalian? Kami bangga pada kalian. Kalian juga seorang Ibu dengan perjuangan yang tidak mudah.

Karena sesungguhnya perjuangan juga tidak berhenti setelah mempunyai anak. Seperti teman-teman saya lainnya, ada yang memilih di rumah meninggalkan cita-cita dan impiannya, mengabdikan diri ikut suami ke sana-sini. Atapun Ibu bekerja yang dini hari sudah harus berebut kereta untuk sampai kantor, begitu pun pulangnya, demi sesuap nasi dan sepenggal kontrak ‘ikatan dinas’. Ada juga Ibu yang bekerja tak kenal waktu karena harus menghidupi keluarganya seorang diri, bahkan akhir pekan tak kenal ‘me time’. Belum lagi Ibu yang harus merawat anaknya sakit berat.

Lalu begitu sang anak pergi lebih dulu bertemu Yang Kuasa, apakah sebutan Ibu itu hilang? Tidak teman, kalian tetap Ibu dengan perjuangan tak henti kirim doa dan merindukan mereka yang pergi. Setiap tetesan air mata rindu dan doa untuk dia yang tercinta dihitung oleh Tuhan, bukan tetangga atau kerabat.

Perjuangan setiap wanita itu berbeda dalam dunia keibuan dan jumlah ceritanya tak terhingga. Tidak bisa disamakan atau dibandingkan. Tapi mereka ada, di sekeliling kita. Mereka ada untuk membuat dunia lebih indah dengan kehangatan rumah serta kedamaian jiwa di pelukan seorang wanita. Tugas Ibu memang tak mudah, tapi Tuhan ganjar setimpal di akhir masa.

Peluh dan airmata wanita jatuh setiap detiknya. Dukung mereka dengan perkataan baik dan menyenangkan. Kehidupan sudah terlalu berat untuk diarungi tak pantaslah kita menambah muatan pada hidup orang lain. Simpan komentarmu untuk diri sendiri. Maklumi bahwa manusia tidak selalu benar, kitapun juga sudah berdosa yang hitungannya melebihi jari. Setiap manusia adalah pendosa, mereka yang masuk surga itu karena mereka bertobat.

Dalam setiap perjuangan tidak ada satu cara pasti untuk mengatasinya karena Tuhan beri ribuan bahkan jutaan jalan yang bisa kita lalui. Tergantung bagaimana kita memilih.  Semoga setiap langkah yang kau pilih selalu dalam lindungan Tuhan temanku sesama wanita yang keibuan. 

Selamat Hari Ibu kawan, semangat berjuang sampai akhir hayat!


No comments:

Post a Comment