Tuesday, 13 March 2018

WAKTUNYA 'BERSARANG' : KONMARI TIME!

Hola!

Setelah sebulan lebih ga posting apa-apa di blog, akhirnya saya muncul lagi! Kangen ga? *eeaa :D 

Mendekati akhir-akhir masa kehamilan kemarin, saya bawaannya malas megang laptop terlalu lama baik untuk urusan kerjaan, nge-blog ataupun nonton drama korea! Iyah segitu anti-nya sama laptop, saya lebih memilih nulis aja di jurnal daripada ngetik di laptop. Selain menulis langsung di buku, saya juga malas jalan-jalan dan jadi gemar menata kamar! Kalau kata orang sih ini fase Nesting alias bersarang alias kayak kucing mau beranak, mencari tempat nyaman. 

Lucu juga, biasanya saya jarang beres-beres makanya pilih mebel yang sederhana aja, kalau bisa semua barang masuk lemari biar ga berceceran, jadi terlihat rapih lah dikit. Tapi kali ini segala lemari mau ditata, kamar direnovasi, sepatu dipakaiin kotak transparan sampai celana dalam aja disusun rapi! 





Demi mendukung hobi mendadak ini, saya terapkan metode konmari sekalian untuk sortir barang-barang yang menumpuk. Pas saya posting di ig story, masih banyak yang belum tahu apa itu Konmari. Jadi saya jelaskan sedikit lagi ya di sini. Konmari adalah metode berbenah yang diciptakan Marie Kondo. Ada beberapa kunci Konmari yakni:
  • Buang sampai tuntas (sekaligus) barang-barang yang tidak lagi sparks joy alias tidak dibutuhkan atau tidak membuat rasa senang saat kita memakainya.
  • Berbenah sesuai kategori dan berurutan jadi bukan per zona misalkan kamar, kamar mandi, ruang tamu, bukan begitu. Konmari menyarankan berbenah per kategori mulai dari yang paling gampang itu baju, lalu buku, barang lainnya, baru benda sentimentil.
  • Buang dulu baru pikir penyimpanannya. Selain diajari membuang, kita juga diajari menyimpan yang efektif (setelah sudah buang-buang barang loh ya).

Nah pas banget ada rencana kamar saya diperbesar tapi nantinya akan jadi ruang kerja/ruang bermain/ruang pakaian (karena ruang kerja ibu adalah milik bersama, betul begitu ibu-ibuuu yang bekerja dari rumah??), jadi mulai deh saya cicil barang mana yang mau dipakai mana yang tidak. Ternyata..., setelah dibongkar-bongkar, banyak banget barang saya dan suami serta Sya! Padahal kami kan cuma bertiga tapi hasil bongkar ada 2 kotak mainan, 2 kotak baju Sya waktu kecil (kotak kontainer besar loh ya ini), 2 kotak buku belum lagi 1 lemari besar dan 1 laci yang kepenuhan. Waduh! Langsung deh eksekusi pelan-pelan, now or never! Tapi berhubung perut makin gede makin sering engap, jadi ya sabar deh ngerjainnya. Alon-alon asal klakon yo toh..



Karena semangat dan hasrat ‘bersarang’ yang kuat, kalau urusan buang-buang sih saya tega saja. Dalam beberapa hari sudah numpuk deh itu barang buangan saya. Masalahnya barang yang dibuang ini mau dibuang kemana? Langsung ke tong sampah, kok sayang masih bisa digunakan. Mau kasih ke panti asuhan, malas keluar rumah. Akhirnya saya bagikan ke sekitar rumah, siapa yang butuh bisa ambil. Saya juga jadi sering nungguin teriakan tukang loak lewat depan rumah, agar mereka ambil barang-barang yang tidak lagi saya butuhkan. Dengan begitu, barang buangan saya tidak lagi menumpuk, yeay!



Hasil "Ketegaan" Saya :D


Kemudian fase menyimpan ini bikin saya rajin lihat Ikea, Muji dan Ace Hardware. Banyak produk yang bisa kita pakai untuk penyimpanan efektif. Tapi balik lagi sesuaikan sama kantong ya! Jangan-jangan nanti duit habis lagi buat beli produk penyimpanan.

Apa efeknya Konmari pada saya? 
  • Yang pertama lemari saya rapi! Meski belum color coordinated, tapi setidaknya kalau suami atau Sya cari baju mereka bisa mudah dan ga gampang berantakan mengingat dua orang itu rusuh banget kalau ambil barang dari lemari. 
  • Kedua, saya sempat muak loh sama barang-barang saat lihat tumpukan sampah yang saya ga nyangka bisa setinggi itu, langsung terbesit penyesalan: "yaampun duit saya selama ini jadi sampah setinggi itu bukannya jadi investasi." 
  • Mendadak (ketiga) saya jadi refleksi kebiasaan belanja saya dulu, suka ga mikir panjang, lihat lucu harga oke suka saya langsung beli. Terus penyimpanan yang tidak rapi dan efektif bikin saya merasa barang ini ga ada lalu beli lagi, misalnya gunting kuku, setelah dikumpulkan loh kok ada banyak sampai 3! 
  • Akhirnya (keempat) saat beli barang untuk adek Ali, saya jadi mikir berulang kali, perlu ga ya beli ini, beli itu, berapa banyak perlunya, harganya wajar ga, bisa pakai alternatif penggantinya apa, dst. Kalau sudah dapat jawaban yang pas di hati baru deh saya belanja.

Ini gantungan baju bertiga loh

Itu pengalaman Nesting saya, kamu pernah ngalamin juga ga? Atau sudah coba metode Konmari? Berhasil atau tidak ini menurutmu?








No comments:

Post a Comment