Friday, 18 May 2018

MENGHITUNG DUIT DENGAN PINTAR



Akhirnya, nulis lagi. Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadan bagi teman-teman yang muslim, semoga lancar jaya ibadahnya ya. 

Kali ini nulis tentang Financial Planning alias biar pintar ngatur duit. Weits, tentu saja tipsnya buka dari saya, tapi dari Mas Dipa yang merupakan financial adviser bersertifikat! Mas Dipa ini kebetulan suaminya teman saya Mbak Sessa, Mbak Sessa temenan sama Mbak Anggi yang punya Community Coffee. Suatu hari, saya lihat di ig story Mbak Anggi lagi ikutan kelas Financial Clinic by Dipa. Wuih, tertarik lah pengen ikutan juga. Alhamdulillah difasilitasi deh oleh Community Coffee, langsung saya daftar.

Sebelumnya saya juga pernah ngobrol dengan Ligwina Hananto pas jaman liputan. Sekalian nanya untuk wawancara, dicampur nanya untuk pribadi. Sejak ketemu beliau, saya tergerak untuk memperbaiki pengaturan financial saya yang waktu itu belum berumah tangga. Saya beli bukunya yang Untuk Indonesia Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin. Dari situ saya terapkan perlahan-lahan tentang investasi dll. Hasilnya? Alhamdulillah bisa bayar acara lamaran sendiri dan juga bantu-bantu pas nikahan serta punya investasi kecil-kecilan.

Namun, financial planning juga harus beradaptasi dengan kehidupan kita. Pemasukan dan pengeluaran jaman gadis dulu tentu berbeda dengan ibu beranak dua yeee kaann.. Jadilah saya belajar lagi, biar inget lagi, praktek lagi.

Read More: Ajari Anak Belanja Dengan Bijak

Nah, kebetulan juga bentar lagi kan mau terima THR nih. Biasanya sebelum THR atau BONUS turun sudah ada tuh dibayangan nanti duitnya buat apa aja. Begitu sms banking berbunyi tanda transferan masuk, buyar semua rencana, cenderung kalap, was wis wus, abis deh! Sebulan kemudian ternyata ada kebutuhan mendadak, kita pun kemudian menyesal. 


Merasa senasib?



Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman mendapat gambaran financial planning ya. Kalau mau lebih lengkap sih ya ikutan kelasnya langsung biar puas tanya-tanya hehe..

Here we go..

Kesannya berat yaa financial planning, padahal sebenarnya konsep sederhana supaya duit ga habis begitu aja. Sebelum kelas dimulai, peserta dibagikan tiga lembar kertas yang berisi:
1. Pertanyaan mengenai profil kita terhadap resiko (Nantinya akan ketahuan apakah kita suka resiko atau suka main aman?)
2. Tabel daftar aset dan hutang
3. Tabel arus uang bulanan

Sudah isi ketiganya tadi, baru deh sesi Financial Clinic dibuka dengan menjelaskan konsep utamnya untuk mencapai tujuan financial kita. Tujuan financial setiap orang tentu berbeda-beda ada yang pendidikan anak, pensiun dini, jalan-jalan, naik haji, dst. Setiap orang berhak punya tujuan financial kok, nah masalahnya ga semua orang berhasil meraih tujuan financialnya itu. Bukan karena pemasukan yang kurang tapiiiii pengetahuan untuk mengaturnya yang kurang. Seringnya nabung pas ada sisa uang, harusnya langsung nabung begitu terima uang, sisanya untuk kebutuhan hidup.

So, dijelasin sebelum langsung nabung untuk tujuan finansial, ada beberapa pos yang perlu diisi pertama-tama seperti DANA DARURAT, ASURANSI JIWA, ASURANSI KESEHATAN, dan DANA PENSIUN.

Dana Darurat itu tujuannya sebagai dana jaga-jaga kalau amit-amit terjadi sesuatu yang ga kita duga, keuangan kita bisa tetap stabil. Misalnya, kita berhenti kerja, kecelakaan, renovasi rumah mendadak, mobil rusak, ada kerabat masuk rumah sakit. Dana darurat bertujuan untuk 'menambal' kebutuhan yang bersifat mendadak. Setelah itu harus kembali diisi sampai ke jumlah minimal. Berapa?
- Single -> 3x pengeluaran
- Menikah -> 6x pengeluaran
- Anak 2 -> 9x pengeluaran

Asuransi ini yang terutama dipunya ASJI dan ASKES. ASJI untuk siapa? Untuk mereka yang punya tanggungan, misalkan kita membiayai orang tua dan adik-adik yang masih bersekolah. Atau Kepala keluarga yang membiayai anak-anaknya. Belum punya tanggungan? Ya ga usah pakai ASJI.

ASKES dasar seperti BPJS wajib punya sih, kalau-kalau kita kena penyakit berat (ya Allah semoga hamba sehat selalu yaa, Aamiin..). kalau sudah ada askes dari kantor ya bagus, kalau kurang tambah ASKES pribadi yang murni ya, ga pakai embel-embel investasi!

Dana Pensiun, penting kalau karyawan swasta yang ga ada jaminan hari tuanya. Penting kalau ga mau ngerepotin anak kelak. Penting kalo tetap mau hidup layak setelah pensiun. Jadi penting ga Dana pensiun buat kamu?

Baru deh masuk ke tujuan finansial masing-masing orang. Misalkan naik haji, atau beli rumah, atau pendidikan anak. Kalau saya dan suami yang utama sih pendidikan anak setelah sudah punya rumah (yang meski belum ditempatin tapi yang penting punya dulu sih, IMO). Nah berhitunglah kita semua di kelas hari itu tentang biaya pendidikan anak, hasilnya? Semua langsung terkejut! Karena jumlahnya sampai Milyaran untuk 1 anak hingga kelar Sarjana ya. Itu belum Sarjana yang mahal macam kedokteran loh. *langsung bengek*

Bawaannya langsung pengen sembah sujud Allah, minta hujan duit! Hahaha..

Taapiiii tenang, Mas Dipa juga cerita how to get there. Contohnya investasi reksadana. Dijeberin deh tuh reksadana apa sih, dan ada beberapa macam tingkatannya dari yang resiko rendah sampai tinggi. Ini makanya kita di tes profil resikonya untuk tahu sekarang masuk ke tingkat yang mana. Dimana kita bisa dapat reksadana, dan bagaimana cara pilihnya.

Reksadana ini juga bisa dipakai untuk tujuan finansial lainnya misalnya liburan keliling dunia 10 tahun lagi, daripada ditabung aja ga akan berkembang duitnya mending investasi di reksadana.

Halal ga? Nah ini jawaban yang saya cari sendiri, selama barangnya ada, perusahaannya jelas, dan tidak masuk di dunia haram, maka reksadana itu halal. Silahkan yang mau berpendapat lain, tapi saya selalu pilih yang syariah biar aman dunia akherat. Aamiinn.

Selain dijelasin tentang hal-hal tadi, juga banyak tips yang diberikan Mas Dipa dari mulai dari jenis-jenis investasi, aplikasi yang dipakai untuk catat pemasukan dan pengeluaran, pakai kartu kredit sesuai kebutuhan misalkan suka jalan-jalan, pilihlah kartu kredit yang poinnya bisa ditukar tiket pesawat. Bahkan sampai cara perhitungan pajak juga dibahas.

Kelasnya cuma dua jam, tapi setelah kelas kita boleh kok konsultasi secara garis besar ya. Kalau mau lebih mendalam mah ya konsultasi 1 on1 langsung dengan Mas Dipa tentunya dengan bayaran berbeda dari acara Financial Clinic di Community Coffee yang cuma 125 ribu udah dapat ilmu, kopi susu dan cemilan. Suasananya juga enak, karena kelasnya kecil, jadi lebih fokus belajarnya. Meski saya udah pernah belajar sebelumnya, tapi kali ini penyampaiannya mengalir dan menohok, ahaha. 





Saya jadi sadar selama ini udah melenceng dari jalur dan harus kembali ke jalur yang benar. Ternyata selain menerapkan financial planning kita juga harus menelaah kembali atau kilas balik perjalanan finansial kita sepanjang tahun. Makanya tiap perusahaan suka ada waktu tutup buku lalu rapat tahunan kemudian buka buku lagi kan, nah tujuannya untuk menelaah sudah sejauh mana perkembangan finansial perusahaan, apa yang harus diperbaiki untuk tahun depan. Ini yang saya dan suami lewatkan, jadi mari pak suami kita galakan review tahunan finansial keluarga di tempat wisata biar segar gitu macam kantor yang suka outing tahunan. *ujung-ujungnya modus minta libur :P


Pengen 'curhat' mendalam tentang financial clinic? Cuss langsung klik ignya Mas Dipa. :)




No comments:

Post a Comment