Thursday, 17 January 2019

TERSADAR SAAT #10yearschallenge



Tempo hari dunia instagram ramai dengan tagar perubahan selama 10 tahun. Ada yang benar-benar berubah, ada yang bercandaan lalu ada yang baper segala. Saya ikutan? Iya, tapii....



Cuma ikutan di Instagram Story, karena foto saya pakai jilbab hanya itu saja saat 10 tahun yang lalu, hehe..

Tapi foto yang hanya itu saja menyeret ke masa lampau, 10 tahun yang lalu tepatnya (yaiyalah namanya juga #10yearschallenge ). Tahun di mana saya galau karena:
mau berhenti kerja apa ga ya, 
tapi kerjaannya ga sesuai bidang saya banget,
tapi gajinya lumayan,
tapi saya belum lulus kuliah, 
tapi skripsi saya susah bener,
tapi dana beasiswa skripsi ga turun-turun,
tapi teman-teman saya udah pada lulus,
tapi....


Ahahaha banyak bener kan tapinyaaaaa... Kebayang kan galaunya mahasiswa tingkat akhir gimana, ngeri-ngeri sedeppp gitu deehh.. Terlihat kegetirannya kan di senyum saya..

Senyum getir lagi penelitiann skripsi ke Aceh

Dasar virgo suka melankolis kali ya (apa saya doang?), saya jadi ingat kegetiran dan ketidakpastian saat itu. Betapa galaunya saya tentang masa depan. Apakah saya melepas kepastian yang ada untuk ketidakpastian? Mana yang jadi prioritas saya, uang atau pendidikan? Di satu sisi saya sudah mulai merasa kayaknya saat kerja nanti saya ga akan di jalur yang sesuai dengan jurusan. Di sisi lain, ada tanggung jawab dari orangtua untuk menjadi sarjana. Pun diri sendiri ingin mempersembahkan gelar tersebut untuk mereka yang sudah berjuang pada setiap tingkatan sekolah.

Ada tersisip rasa ingin menyudahi, itu jalan yang termudah tapi paling buruk. Kehilangan asa. Astagfirullah hal adzim, untungnya saya diselamatkanNya. 

Apa jadinya kalau saat itu saya berhenti? 

Saya ga mungkin bisa kerja seperti sekarang, saya ga mungkin bisa berkarya seperti sekarang, bahkan saya mungkin ga akan ketemu suami dan punya anak-anak seperti sekarang. Karena kemunduran pasti jadi 'kembaran' saya. Ketika saya sudah berani mundur dari hal yang baik untuk saya, kemunduran-kemunduran berikutnya akan terus datang. "Ah, gw aja bisa berhenti kuliah kenapa juga ga berhenti kerja, dsb" (Oh, No!)

Alhamdulillah Allah terus lindungi saya dari rasa patah arang. 
Saya didampingiNya terus melangkah dan diberi semangat juang. 

Saat itu saya segera memutuskan berhenti kerja, kembali numpang di kamar kosan sahabat saya, dan kekeuh menyelesaikan skripsi hingga akhirnya gelar itu saya dapatkan. Saya ingat saat itu rasanya semangat menggelora sekali demi kelar skripsi! Masa-masa ketika naik turun angkot di Bandung dan panas-panasan mengejar dosen pembimbing ke rumahnya, bulak-balik Dipati Ukur - Jatinangor mengurus beasiswa agar segera turun. Lalu menghubungi senior dan junior paskib saya yang berada di Aceh dan Malaysia (saat itu tiket termurah harus transit dulu di KL) supaya dapat referensi, info dan gambaran tempat. Menghemat cuma makan mi instan dan warteg ala kadarnya karena saya tak lagi punya penghasilan. Dengan segala daya yang tersisa saya berangkat penelitian skripsi ke Aceh, lalu pulang menyusun skripsi, sidang di bulan Januari 2010 dan wisuda Februari 2010. Tangisan lega dan bahagia yang tersisa pada hari wisuda itu, akhirnya lewat juga satu babak. 


Uniknya, menilas balik kisah saya saat itu ada rasa semangat yang terpercik di dada. Seperti apa ya, mungkin kayak nonton film Dilan 1990 ya, ada rasa nostalgia, senang, kemelut, semangat masa muda. Nah, rasa semangat ini yang mendominasi dan tiba-tiba memicu saya untuk kembali menumbuhkan daya juang, membuka kedua mata ini seakan terbangun dari tidur. Saya dihadapkan dengan babak-babak baru di depan saya, mana yang mau saya pilih, apa prioritas saat ini, apakah mimpi saya? Pertanyaan yang harus segera dijawab, agar 10 tahun yang mendatang saya ingin tetap melihat rasa juang itu ada, saya ingin melihat mimpi saya sudah sejauh mana yang tercapai. 

Hebat ya sebuah daya juang dan semangat itu timeless. Begitu kita 'memanggil'nya kembali atau sedikit 'bersentuhan' langsung saja ketularan. WOW!




Selama 10 tahun mendatang saya terpacu untuk tetap bermimpi dan menjadikannya kenyataan. Mimpi yang kini ga hanya milik saya sendiri tapi juga mimpi milik saya, suami dan anak-anak kami. Bismillah..

Bagaimana dengan #10yearschallenge teman-teman, rasa apa yang dipercikan saat melihat fotomu 10 tahun yang lalu? Adakah yang teringat masa-masa skripsi kayak saya?






2 comments:

  1. this is so inpsiring.. jalan hidup masing-masing orang emang berbeda ya ka, punya timeline sendiri. salut deh sama kmu kak. tetap semangat ya <3


    // BEAUTY & TRAVEL BLOG by Ollyvia Laura : NEW POSTS EVERY WEEK //

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aakkk thank you udah mampir Ollyvia, how about you? 10 tahun yang lalu jadi teringat apa nih? :D

      Delete