Tuesday, 8 January 2019

TIPS KAKAK ADIK AKUR (Usia Balita)


Saya tahu banget rasanya bersaing dengan adik, tidak akur, berantem terus setiap hari. Teriakan, jambakan, kejar-kejaran, sudah kami (saya dan adik) anggap wajar karena saking seringnya bertengkar dan tidak cocok sedari kami SD sampai kuliah. Sampai pada suatu momen, saya dan adik bertengkar di kamar kos saya dengan suara berbisik tapi marah, coba dibayangin itu emosi bertubi-tubi tapi luapannya ga boleh sampai mengganggu orang lain. At that time, then we realized that we are a not same person. Kami berbeda tapi selalu dibandingkan membuat kami iri satu sama lain. Ketika sadar itu, saya dan adik semakin beradaptasi dan menghargai perbedaan kami.

Karenanya begitu Sya mau punya adik, saya pelajari lagi bagaimana caranya ya supaya mereka tidak bertengkar seperti saya dulu. Akhirnya saya coba terapkan tips berikut ini yang saya ambil dari berbagai sumber termasuk berkaca dari keluarga suami yang kakak beradik akur bener padahal 5 bersaudara. Semoga bermanfaat ya.

- Persiapkan si kakak tentang arti perbedaan

Dunia sang kakak akan berubah drastis begitu adik lahir. Mungkin saja perhatian orang akan lebih tertuju pada bayi mungil yang baru saja lahir ketimbang kakak. Wajar kalau kakak cemburu karena perhatian yang tadinya untuk dia semua jadi terbagi. Tapi bila kita persiapkan si kakak jauh-jauh hari, insyaAllah kakak siap dengan datangnya adik. Perbedaan yang dimaksud mulai dari ukuran badan, jenis kelamin, usia dan aktivitas. Saya bilang sama Sya kalau kita semua dulunya terlahir tidak berdaya, kecil dan ga bisa ngomong, karenanya adik bayi butuh bantuan untuk makan, mandi, dsb. Berbeda dengan kakak yang sudah belajar lebih dulu dari adik sehingga sudah bisa mandiri. Perbedaan ini kami jelaskan terus menerus kepada Sya sampai dia paham, pun begitu adiknya sudah lahir terus kami jelaskan adanya perbedaan. Semakin adiknya membesar, semakin jelas ada perbedaan sifat dan karakter. Itu juga kami jelaskan pada Sya dengan pehaman, it's okay to be different we are all human. Semakin dewasa, si adik juga diajari artinya perbedaan misalkan beda jenis kelamin sehingga pakaiannya berbeda, kakak sudah sekolah jadi perlu pergi ke sekolah di pagi hariu sedangkan adik tunggu di rumah, dsb.

- Menghargai kepemilikan

Sebagian besar penyebab pertengakaran saya dan adik dulu adalah masalah kepemilikan, dan karena kakak saya harus ngalah sama adik. Akibatnya saya tidak merasa punya privasi sendiri dan sebal harus ngalah mulu (siapa yang senasib??). Maka dari itu meskipun Ali masih bayi dan bayi itu selalu suka mainan kakaknya atau apapun yang kakak lakukan dia pengen ikutan, kami selalu kasih pengertian di depan anak-anak untuk meminta ijin dan bergantian. Menurut saya dan suami baik kakak dan adik punya hak atas barangnya masing-masing dan bila ingin meminjam barang orang lain harus meminta ijin atau nyuwon (sambil diajarkan meminta dengan kedua tangan). Kalau kakak tidak ingin meminjamkan, it's okay, kasih alternatif ke si adik sambil bilang atur jadwal ke kakak, kira-kira kapan adik boleh pinjam?

- Orangtua membela hak masing-masing anak

Meski sudah akur tak jarang kok ada perselisihan, misalkan adik yang bayi tangannya sedang senang latihan motorik halus seperti memainkan rambut si kakak. Tapi kakak kesakitan karena rasanya seperti dijambak. Jangan salahkan salah satu pihak, tapi bela hak mereka masing-masing, beri pengertian ke si adik kalau kakak kesakitan, beri pengertian ke kakak kalau adik belum paham apa yang dilakukannya. Karena dasarnya pertengkaran karena adanya hak yang terampas. Contoh lain yang paling sering adalah jam tidur siang yang berbeda, kalau adiknya tidur si kakak suka iseng mau bangunin, begitupun sebaliknya. Sehingga kami jelaskan kepada keduanya kalau saudaranya butuh istirahat supaya sehat, yuk kita main yang lain sambil sabar nunggu saudaranya bangun.

- You and I time

Ada tips dari Bia yang saya terapkan langsung yakni quality time cuma berdua sama anak, misal saya sama si kakak dan saya sama si adik. Kalau lagi quality time sama adik ga boleh ada intervensi dari si kakak, begitupun sebaliknya. Ternyata cara ini ampuh loh membuat masing-masing anak punya waktu berkualitas cuma sama ibunya. 

- No labeling

Hentikan melabeli anak seperti kakak bandel ya gangguin adiknya terus. Adik nakal ya ambil-ambil barang kakak, dll. Mereka ga nakal loh, mereka cuma ga tahu gimana berinteraksi yang baik dan sehat dengan saudaranya. Ingat kan omongan adalah doa, masa mau punya anak bandel dan nakal pas sudah besar, no i don't want too! Jadi sebisa mungkin saya tahan lidah untuk ga ngomong atau langsung judge anak ketika mereka memicu pertikaian, melainkan cari tahu masalahnya dan kembali ke membela hak masing-masing anak.


Hem, apalagi ya? Kurang lebih yang saya terapkan seperti itu, alhamdulillah masih baik-baik aja meski ada iseng satu sama lain, tapi masih pada tahap wajar. Masih banyak tips lainnya seperti hindari kebiasaan mengadu, ajak anak bicara berdua saja, hindari membandingkan anak (ini yang bikin saya suka rem mulut kadang rasanya mau nyeplos aja gitu, tuh lihat adik makannya pinter masa kakak kalah makannya sama adik, tapi kan makan bukan kompetisi buktinya saya kebanyakan makan malah jadi gendut, eh? :D), sama satu lagi menumbuhkan keunikan anak.

Kalau punya tips yang lain suapa kakak adik akur, mau dong dikasih tahu lewat kolom komentar. ;)









No comments:

Post a Comment