Saturday, 11 May 2019

MINDFULNESS


Source: <a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background">Background photo created by senivpetro - www.freepik.com</a>


Kata yang akhir-akhir ini sering dikumandangkan banyak orang mulai dari gaya hidup minimalis, konmari, sustainable sampai ke mental sehari-hari seperti makan, keuangan, pakaian, dll. 

Sebetulnya...

Konsep mindfulness ini sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW seperti makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang, minum tiga tegukan, rumah Rasulullah yang sederhana dan secukupnya, bahkan diturunkan surat Al Takasur untuk mereka yang suka bermegah-megahan itu tidak baik dan lain sebagainya.

Seiring perjalanan waktu, teknologi makin mumpuni memfasilitasi kehidupan manusia bukan lagi dalam taraf butuh tapi ingin. Ingin ganti baju tinggal buka aplikasi di ponsel, pilih baju yang dimau besok bajunya sampai. Mau makan tinggal pesan aplikasi online, ga perlu masak, makanan sampai di depan rumah. Kemudahan yang memabukan terutama mereka yang khilaf dengan gelimang duniawi, termasuk saya.

Ada masanya saya membeli ini itu tanpa melihat sebenarnya perlu atau sekedar ingin ya? Ah beli aja dulu daripada nyesel ga beli. Ah mumpung diskon ambil aja deh, kapan lagi diskonnya. Ah ntar juga dipakai. Ah dulu ga bisa beli ini nih karena ga ada uangnya, sekarang beli deh dipakai kapan urusan nanti. Dan ratusan alasan lainnya yang membuat saya terlena.

Akibatnya barang numpuk, ada baju yang tidak terpakai, ada barang yang kegunaannya hanya sebentar kemudian diam bertengger di sudut kamar, ada makanan yang tak habis karena sebenarnya hanya ingin coba lalu terbuang. 

Gaya hidup seperti ini membuat saya kacau dalam banyak hal sebut saja keuangan, kehidupan sehari-hari tidak bisa content tanpa membeli barang, pikiran sering tidak rapih, dan rasanya barang selalu tidak cukup. Hhhh.. lelah rasanya padahal ga ngapa-ngapain. 

Padahal apakah saya butuh semua itu? Tidak.

Tentu tidak.
Pasti tidak.

Memangnya saya cari itu semua untuk apa, kebahagiaan? Ya, tapi sementara. Perlarian? Ya, tapi bukan solusi. Gengsi? mau sama siapa lagi gengsi itu saya tampakan?

Things not everything. 
They are here to support our life, not to command us to get them.

Refleksi diri sendiri dan temukan jawabannya, bahwa ternyata saya Post Partum Depression. Saya lari dari masalah itu dengan makanan, benda-benda, dsb. Teriaklah, cari pertolongan, sebelum terlambat dan menganggap hal ini biasa saja. Datangi psikolog, ustad, pemuka agama seseuai kepercayaanmu (karena rasanya semua agama mengajarkan bahagia bukan dari materi?), grup konseling. It helps.

Mata saya seakan terbebas dari kabut yang menghalangi cerahnya dunia. Now, I know why I have to be mindful, karena lubang itu di perbaiki bukan ditutupi atau sekedar dihias. Masalah itu dicari solusinya bukan dianggap tak ada, tabu, dan diabaikan. Kekurangan itu wajar, kita cuma manusia tak ada yang sempurna. 



you only live once, use it right....






No comments:

Post a Comment