Wednesday, 1 May 2019

PINDAHAN RUMAH




Siapa di sini yang sudan pernah pindahan rumah? Kayaknya hampier semua sudah pernah merasakan yang namanya "PINDAHAN" ya. Tapi ini kali pertama saya ngerasain pindahan ke rumah sendiri setelah menikah hampir 7 tahun loh. Ternyata rasanya beda yaaaa..


Beda karena saya dan suami jadi punya otoritas lebih mengatur rumah kami.
Beda karena saya bisa dekor-dekor rumah sendiri.
Beda karena anak-anak ternyata cepat beradaptasi dan segera menemukan teman baru.

Yang kemudian timbul masalah karena...

Anak-anak betah! 

Padahal, rencana awal adalah kami pindah sementara rumah mertua direnovasi. Begitu renovasi selesai, kami pindah lagi. Keputusan itu diambil tanpa mempertimbangkan perasaan anak-anak. Menggunakan hak veto orangtua, kami yakin keputusan ini sudah bulat, pakai titik ga pakai koma, pokoknya rumah mertua selesai renovasi kita langsung pindah! (tok tok tok ! *ceritanya ketok palu)

Rumah kami ini sudah lama dibangun, bahkan memilikinya pun penuh drama. Tapi tidak bisa kami tempati karena saya dan suami sepakat untuk menemani mertua.


Tapi setelah melihat anak-anak cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan baru dan terlihat bahagia,  bahkan berkali-kali si kakak tak bisa menyembunyikan kegembiraannya atas keputusan kami pindah rumah. Hati orang tua mana yang ga meleleh lihat sorot mata lugu mereka memancarkan kebahagiaan.

Jujur, saya dan suami langsung galau dot kom! 

Dilema kemudian melanda karena tadinya rumah kami ini akan dibeli oleh pihak lain, tapi kalau dijual kebahagiaan anak-anak yang terenggut. Dilema karena tadinya mertua dan kami sepakat untuk pindah kembali setelah renovasi tapi saya dan suami ga tega sama anak-anak yang keburu betah. Saya seperti terlempar ke dalam film Keluarga Cemara. Ada sebuah adegan dimana Abah dan Emak dilema ketika harus menjual rumahnya, apalagi sudah ada peminatnya.

Nyeesss! Hati saya langsung mencelos...

Ga nyangka ternyata, saya dan suami merasakan juga posisi Abak dan Emak kala itu. 

Perbincangan ke berbagai pihak mulai kami buka untuk mengutarakan maksud kami menetap di rumah sendiri. Ada yang pro ada yang kontra. Kami maklum, keputusan ini mendadak serta terkesan kami inkonsisten. Dan setelah hampir 4 bulan pindah, akhirnya kami bisa yakin pada keputusan bersama (saya, suami dan anak-anak) bahwa kami menetap di rumah sendiri mulai tahun ini. 

Sebuah pembelajaran kalau rumah tangga itu memang memerlukan 'ruang' sendiri. Seringkali kita yang dewasa mengacuhkannya, merasa tidak butuh dan bisa mengakali ruang yang ada. Tapi dalam rumah tangga juga ada anak-anak, mereka punya hak untuk bersuara dan didengarkan pendapat mereka karena mereka juga manusia, mereka juga bagian dari keluarga. Mereka juga punya kebutuhan tersendiri untuk berkembang yang sebisa mungkin difasilitasi oleh orang tua dengan segala daya upaya.

Semoga keputusan ini menjadi salah satu bentuk ihtiar kami sebagai orangtua yang berusaha memfasilitasi anak-anaknya.

So, from now on we are Tangsel Pride Community! :D 





No comments:

Post a Comment