Monday, 9 September 2019

TENTANG POST PARTUM DEPRESSION (PPD)




Saya punya janji sama diri sendiri untuk cerita mengenai PPD yang saya alami, tapi... entah kenapa belum bisa juga cerita itu meluncur jadi ketikan tulisan. PPD memang ga mudah untuk diceritakan padahal saya sudah 'sembuh' apalagi mereka yang masih mengalaminya. Sesulit itu untuk mengungkapkan "Hei, aku lagi PPD loh.."

Sedihnya, semakin sulit mengungkapkan, semakin kita terkungkung oleh PPD dan efek dominonya pada anak serta suami seperti berita yang baru saja santer terdengar: IBU MEMBUNUH BAYINYA..

Mereka bilang dia pembunuh keji yang tega menghabisi nyawa bayinya sendiri. Mana ada Ibu yang bisa setega itu, binatang aja sayang banget sama anaknya.

Ya, pada dasarnya semua Ibu sayang pada anaknya.
Anak adalah darah dagingnya, ia kandung sembilan bulan (bisa kurang bisa lebih), ia yang merasakan tendangan pertama si kecil.
Ia yang kuat lawan pusing, mual, bobot tambahan di tubuhnya.
Ia yang setiap bulan berdegup jantungnya saat menyaksikan kehadiran si kecil di monitor hitam putih.
Ia yang tak menyangka gelombang cinta bisa hadir sekuat itu dan entah darimana ia dapat kekuatan bertahan dari 'remukan 20 tulang' selama satu hari, dua hari bahkan seminggu sampai anaknya hadir ke dunia.
Ia yang rela malamnya menjadi siang, siangnya menjadi malam.
Ia orang yang sama dengan yang membunuh anaknya.

Lalu pernahkah terbesit pertanyaan: Kenapa bisa begitu?

Tidak.

Yang muncul kemudian sebuah PERNYATAAN:
- ah itu sih dia aja manja
- wah parah sih psikopat ibunya
- gila, ga bener banget ibunya
- kurang iman tuh dia
- yaampun segitunya ama anak sendiri, gw aja yang juga lahiran ga sedepresi itu
- dia itu lebay
- dst

Disini titik masalahnya. Binatang bisa dengan santainya membesarkan anak karena binatang lainnya tidak memberikan pernyataan yang memojokannya. Sedangkan kita, manusia, lebih suka memberikan kesimpulan dini atas suatu masalah tanpa bertanya KENAPA?

Kita sibuk menjustifikasi seseorang berdasarkan hasil akhirnya. Padahal ada proses yang berlangsung sebelum hasil akhir, sebelum dia membunuh bayinya sendiri.

Ada malam-malam panjang terlewati dengan tangisan bayi dan ibunya
Ada peluh keringat tak berkesudahan
Ada kebingungan yang bertubi-tubi
Ada sakit hati yang tak tersampaikan
Ada kata-kata yang tak terucap
Ada derita yang diam di hati
Ada perubahan yang tak disangka
Ada mimpi yang mati

Mereka butuh solusi tapi apa yang hadir hanya ejekan, cemooh, tidak ada sercercah peduli yang dirasakan. Terlalu takut untuk bercerita, mereka memilih bungkam. Menangis dalam kesendirian, berusaha menyembuhkan lukanya sendiri.

Mencari Tuhan memang sebuah jalan usaha, tapi bukankah Tuhan sudah mengirimkan pasangan untuk saling berbagi sebagai solusi? Pasangan yang ada disaat suka dan duka, senang maupun sakit. It takes TWO to TANGO they said, tapi kenapa hanya Ibu yang mengurusi Anak sepanjang siang dan malam?

Padahal kita semua tahu beban berat yang dipikul sendiri tidak akan membawa kita berjalan cepat dan jauh, tapi ketika kita berbagi pikulan beban, pundak terasa lebih ringan, perjalanan bisa lebih jauh dan lebih cepat. Jadilah tempat ia berbagi beban, tempat ia menyenderkan raganya yang letih, tempat ia mencari kehangatan pelukan dan cinta kasih. 

Dengarkan dia, hapus peluhnya, usap air matanya, bantu ia istirahatkan tangan dan raganya. Semudah itu, sesederhana itu untuk hadirkan senyuman kembali di wajah Ibu, menyelamatkan Ibu dari gelapnya lubang Post Partum Depression.


*PS: Untuk kamu yang membaca ini dan sedang menghadapi PPD silahkan bercerita dengan saya atau bisa juga ke instagram HaloIbu

kamu ga sendiri, and it's okay to feel like that. We are here for you.. 










No comments:

Post a Comment