Monday, 24 August 2020

Menyusuilah Dengan Keras Kepala (Sebuah Tekad Lulus ASI 2 Tahun!)


Perjalanan menyusui kali ini (yang baru 2 bulan lewat) rasanya lebih mudah daripada perjalanan menyusui dua anak sebelumnya. Kok bisa?

 

Knowledge is power


 

Pengetahuan saya bertambah banyak di setiap kehamilan, ditambah arus informasi yang luar biasa derasnya akhir-akhir ini. Suami juga bilang kalau setiap kehamilan saya ada kemajuan semakin berdaya dan semakin nyaman terutama di persalinan dan menyusui.


Tuesday, 11 August 2020

Persiapan Melahirkan di Masa Pandemi Covid19

Tak terasa sudah masuk minggu 36 kehamilan saat saya menulis ini. Wah sebuah pengalaman yang berbeda dari dua kehamilan sebelumnya nih, kali ini saya hamil dan mau melahirkan di masa Pandemi Covid19!

Ada banyak hal yang berubah selama Pandemi Covid19, mulai dari self quarantine, bekerja dari rumah, anak-anak sekolah dari rumah, bahkan memasuki bulan Ramadan kali ini juga ibadah di rumah saja! (Hiks sedih deh ga ada terawih di mesjid) Selain itu juga ada penerapan jaga jarak (social distancing/physical distancing) dan juga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Kunjungan ke rumah sakit pun dibatasi, misal untuk mengunjungi dokter kandungan, disediakan layanan konsultasi melalui video call.

Berhubung saya sudah 1,5 bulan sejak minggu 28 kehamilan tidak cek langsung ke dokter sehingga minggu lalu saya buat pernjanjian untuk usg cek posisi bayi. Btw, saya juga pindah dari rumah sakit ke klinik bersalin, untungnya dokternya praktik di situ juga, jadi saya ga ganti dokter.

Saat bikin perjanjian ke dokter sudah dikasih tahu kita dapat di antrian ke berapa dan harus datang di jam berapa. Lebih dari jam itu maka perjanjian dibatalkan. Kami dapat antrian ke 19 di jam 21.36! Jadi bisa pergi saat anak-anak tidur, tapi meskipun begitu saya dan suami tetep deg-degan loh di perjalanan, padahal sudah malam dan jalanan sepi. Entah kenapa rasanya tetap mencekam karena kita menghadapi virus yang tak kasat mata tapi membahayakan sekali. Gusti Allah mohon perlindunganMu, Amiin!
Protokol kesehatan yang diterapkan klinik bersalinnya membuat ruang tunggu jadi sepiiii, wah efektif nih. Tak lama giliran kami pun tiba, bersua dengan dokter kandungan yang berpakaian APD lengkap pun tak menyurutkan rasa deg-degan saya dan suami. 

Pemeriksaan berjalan lancar, posisi bayi bagus, tumbuh kembangnya baik, ketuban sangat cukup namun disarankan untuk menambah cairan ketuban dengan konsumsi air lebih banyak dan juga air kelapa.

Setelah itu saya dan suami diberi surat rujukan untuk swab test jelang lahiran. Bila hasilnya positif maka setelah melahirkan bayinya akan dipisah dari sang ibu, tidak boleh menyusui langsung, sang ibu langsung di isolasi. Membayangkannya saja air mata sudah bergulir turun, segitu bahayanya virus ini yang dengan lancangnya memisahkan banyak tali kasih. :(

Sabtu, 9 Mei 2020. Swab test berjalan juga walaupun menyisakan rintihan pilu karena 'colekannya' sampai ke pangkal hidung. Test ini merogoh kocek kami lumayan senilai 1,9 juta untuk saya swab test dan suami rapid test, jumlah tersebut tentu tak bisa diganti asuransi ataupun BPJS, namun tak apa demi kesehatan. Tapi bayangkan kalau mereka yang tak mampu, bagaimana membayarnya kalau untuk melahirkan saja bergantung pada layanan gratis dari BPJS? 

Saya dan suami cuma bisa berdoa semoga perjalanan mereka dalam persalinan di tengah pandemi ini dimudahkan Allah SWT. 

Usai test, saya dan suami berputar mencari kebutuhan di rumah sekaligus untuk si bayi, Attar. Walapun begitu sebagian besar kebutuhan Attar sudah dibeli via online seperti baju, celana, bedong, popok, dll.